DENPASAR (terasbalinews.com). Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar menyiapkan peta bisnis lima tahun untuk memperkuat kinerja perusahaan. Tak hanya mengandalkan pengelolaan pasar, perusahaan daerah ini mulai membidik sejumlah sumber pendapatan baru, mulai dari bisnis parkir, SPKLU, PLTS, co-working space hingga perdagangan digital.
Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma, Wayan Suadi Putra, Jumat (30/10/2026) mengatakan dokumen rencana bisnis 2026-2031 saat ini tengah disempurnakan dan ditargetkan menjadi acuan pelaksanaan program mulai 2027.
Rencana tersebut dibagi dalam tiga tahap. Program jangka pendek difokuskan pada pembenahan internal hingga 2027, jangka menengah sampai 2029, dan jangka panjang hingga 2031.
“Rencana bisnis ini kami bagi menjadi jangka pendek, menengah dan panjang,” tandasnya.
Diuraikan, pada tahap awal, Perumda Pasar Sewakadarma akan membenahi pola kerja internal, termasuk menyiapkan penerapan sistem e-kinerja. Penataan sumber daya manusia dilakukan secara bertahap tanpa mengandalkan pemutusan hubungan kerja, antara lain melalui pengaturan pegawai yang memasuki masa pensiun.
Di sisi bisnis, pengembangan kawasan parkir menjadi salah satu peluang yang disiapkan. Perumda Pasar Sewakadarma akan mengembangkan sejumlah titik parkir untuk mendukung penataan kawasan Gajah Mada, antara lain di Batang Moning dan kawasan sekitar Pasar Badung.
Parkir tersebut, katanya, tidak hanya ditujukan untuk mendukung mobilitas kawasan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan baru perusahaan. Skema parkir berlangganan bagi pekerja dan pelaku usaha di kawasan Gajah Mada juga tengah disiapkan.
Pengembangan parkir akan terintegrasi dengan konsep kawasan rendah emisi. Sewakadarma berencana mengembangkan SPKLU dan membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga.
Langkah serupa disiapkan melalui pemanfaatan atap bangunan pasar untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Dengan menggandeng mitra, perusahaan berharap pemanfaatan atap sekaligus dapat membantu perawatan aset bangunan.
Program besar lainnya adalah revitalisasi Pasar Kreneng. Nilai pembangunan diperkirakan mencapai sekitar Rp140 miliar.
Dijelaskan, Perumda Pasar Sewakadarma telah menyiapkan proposal dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian terkait. Perencanaan proyek ditargetkan masuk dalam APBD 2027, sementara penganggaran pembangunan diharapkan dapat dilanjutkan melalui pemerintah pusat.
“Konsep revitalisasi diarahkan lebih efisien, dengan maksimal dua lantai di atas basement. Basement akan digunakan untuk menampung aktivitas pasar pagi dan malam, sedangkan lantai atas diperuntukkan bagi pedagang barang kering, pakaian dan komoditas lainnya,” tuturnya.
Penataan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas penyimpanan sehingga aktivitas pedagang tidak lagi banyak menggunakan ruang di luar bangunan pasar.
Untuk jangka panjang, Perumda Pasar Sewakadarma juga mulai memikirkan pengembangan Pasar Cokro dan sejumlah pasar lainnya. Setiap investasi akan dihitung berdasarkan nilai aset, kebutuhan pembangunan dan potensi pendapatan.
Perumda Pasar Sewakadarma, menurut Suadi, juga mulai menggeser strategi bisnis ke ranah digital melalui pengembangan unit usaha Sewaka Jaya.
Platform ini disiapkan sebagai kanal penjualan online produk-produk pedagang pasar. Pada tahap awal, pasar yang dibidik adalah Denpasar dan Bali. Produk dengan stok aman dan permintaan tinggi akan dipilih untuk dipasarkan secara daring.
Tak berhenti di pasar domestik, model bisnis tersebut juga disiapkan untuk membuka peluang ekspor. Mitra Sewakadarma yang memiliki jaringan toko produk Indonesia di Australia akan menjadi salah satu pintu masuk untuk memasarkan komoditas tertentu dari pedagang pasar Bali.
Menurut Suadi, diversifikasi menjadi penting karena perusahaan menghadapi beban penyusutan aset yang cukup besar. Secara operasional perusahaan masih memiliki pendapatan, tetapi beban penyusutan membuat kinerja terlihat berbeda dalam laporan akuntansi. Karena itu, Sewakadarma ingin membangun sumber pendapatan baru di luar bisnis konvensional pasar.
“Kami harus berpikir out of the box,” tegasnya.
Selain meningkatkan pendapatan perusahaan, strategi tersebut diharapkan mempercepat perputaran usaha pedagang. Semakin banyak kanal penjualan yang tersedia, semakin besar peluang produk pedagang terserap pasar.
Dengan strategi tersebut, Suadi menargetkan transformasi bisnis dari sekadar pengelola pasar menjadi perusahaan daerah dengan portofolio usaha yang lebih beragam, tanpa meninggalkan pasar sebagai bisnis utamanya. (yak)







