BULELENG (terasbalinews.com). Pemerataan ekonomi Bali masih menghadapi tantangan serius. Aktivitas ekonomi dan investasi yang selama ini terkonsentrasi di Bali Selatan mendorong Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali mengusulkan sejumlah langkah strategis untuk mengembangkan Bali Utara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Data BI menunjukkan, kontribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kawasan Sarbagia (Denpasar, Badung, Gianyar) mencapai 58 persen terhadap total PDRB Bali. Sementara realisasi investasi di kawasan tersebut sepanjang 2026 mencapai Rp30,49 triliun atau 81,64 persen dari total investasi Bali.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam Forum Diskusi Strategis BALINOMICS yang diselenggarakan Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali di Kantor Bupati Buleleng, Kamis (5/11/2026). Forum ini membahas langkah taktis untuk memperkuat pemerataan ekonomi Bali Utara-Selatan.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Achris Sarwani, mengatakan perekonomian Bali pada 2026 diprakirakan tetap tumbuh kuat pada batas atas kisaran 5,4-5,9 persen secara tahunan. Namun, potensi ekonomi daerah dinilai belum optimal karena aktivitas investasi masih didominasi wilayah selatan.
Menurutnya, pengembangan Bali Utara perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah komoditas unggulan daerah. Selain membuka peluang usaha, langkah ini juga diharapkan memperluas lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Ada tiga strategi utama yang didorong, yakni penguatan konektivitas Bali Utara-Selatan, pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, serta hilirisasi sektor kelautan, perikanan, dan pertanian.
Dai tempat yang sama, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni, yang mewakili Bupati Buleleng, menegaskan pengembangan Bali Utara merupakan bagian penting dari penguatan ekonomi Bali secara menyeluruh. Pemerataan pembangunan diperlukan agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan masyarakat di seluruh wilayah.
Dalam forum tersebut, Founder and CEO PT Haldin Pacific Semesta dan PT Talasi Tru Origin, Alisjahbana Haliman, mengungkapkan Bali memiliki beragam komoditas potensial, seperti kopi, rumput laut, dan anggur yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun internasional.
Salah satu peluangnya adalah substitusi impor melalui pengembangan produk lokal. Ia mencontohkan sirup aren yang berpotensi menggantikan sebagian kebutuhan maple syrup yang selama ini banyak diimpor.
“Namun, pengembangan komoditas lokal membutuhkan rantai pasok yang kuat, mulai dari jaminan mutu, kepastian pasokan, hingga perluasan pasar,” tandasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Bali, Dedy Arief Hendriyanto, menyebut komoditas perikanan Bali, seperti tuna dan udang, telah mampu bersaing di pasar global. Ke depan, perluasan pasar ekspor perlu terus didorong agar kontribusinya terhadap ekonomi daerah semakin besar.
Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng juga berharap terbentuk ekosistem pertumbuhan ekonomi Bali Utara yang mampu membuat lebih banyak nilai tambah ekonomi tinggal dan dinikmati masyarakat setempat.
Melalui BALINOMICS, BI mendorong kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperkuat konektivitas fisik dan digital, mengembangkan pariwisata, serta meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Dengan langkah tersebut, Bali Utara diharapkan tidak hanya menjadi wilayah penyangga, tetapi mampu tumbuh sebagai pusat ekonomi baru yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.














