BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.

Terobosan Dr. Luh Suriani Kembangkan Beras Merah Jadi Teh

Dr. Ni Luh Suriani, S.Si.,M.Si., selaku DPL atau Dosen Pembimbing Lapangan KKN Unud, usai memberikan pelatihan pembuatan Teh Beras Merah Inovasi di Banjar Munduk Paku, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. (foto/ist)
banner 120x600

TABANAN (terasbalinews.com). Dr. Ni Luh Suriani, S.Si., M.Si., sebagai Dosen Pembimbing Lapangan dan Dosen Program Studi Biologi di Fakultas MIPA Universitas Udayana di Banjar Munduk Paku, Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Minggu (23/7/2023) menjelaskan, teh Beras Merah adalah tanaman lokal yang hanya ada di Bali, oleh karena itu mengembangkannya dan memperkenalkannya sebagai simbol yang dapat dijual secara internasional.

“Teh Beras Merah dianggap sebagai simbol yang khas di Bali, sehingga telah dilakukan penelitian menggunakan bahan Beras Merah untuk mengembangkannya,” ucap Luh Suriani usai memberikan pembekalan kepada mahsiswa Universitas Udayana.

Pembuatan Teh Beras Merah telah dilakukan sejak zaman nenek moyang dan tetap menggunakan sistem tradisional. Dr. Luh Suriani menambahkan, Bali perlu mempertahankan pengembangan secara tradisional karena Bali merupakan ikon pariwisata.

“Oleh karena itu, cara tradisional yang berasal dari leluhur kita ini terus kita kembangkan dan menjadi daya tarik wisata,” katanya.

Proses pembuatan Teh Beras Merah sangat sederhana, dengan cara menuangkan Beras Merah ke dalam kuali yang terbuat dari tanah liat, kemudian disangrai di atas api sedang. Proses sangrai Beras Merah sekitar 1 kilogram pada kuali dengan api sedang memerlukan waktu sekitar 15-20 menit, tergantung pada ukuran kuali dan intensitas api di tungku.

Dr. Luh Suriani mengadakan pelatihan pembuatan Teh Beras Merah Inovasi sebagai bagian dari pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Universitas Udayana (Unud) dalam acara Kuliah Kerja Nyata atau KKN. Ia menjelaskan, “Hasil penelitian saya tentang beras merah, yang dibuat secara organik dan digunakan sebagai bahan pembuatan teh beras merah.”

Teh Beras Merah di Munduk Paku, Senganan Tabanan memiliki ciri khas khusus dengan tambahan herbal seperti jahe dan sereh, yang berbeda dengan Teh Beras Merah di Jatiluwih, Tabanan. Herbal tambahan harus dikering anginkan selama sekitar 4 hari sebelum dicampur dengan Beras Merah yang sudah disangrai. Teh Beras Merah bisa dikemas rapi untuk dijual atau disimpan dalam botol jika ingin diminum. Kerjasama dengan UD Dewandaru Flora memungkinkan Teh Beras Merah dikemas dengan masa kadaluwarsa selama 1 tahun.

Meskipun produksi Teh Beras Merah cukup melimpah berkat edukasi yang tepat sasaran kepada petani dalam penggunaan bahan organik, namun masih ditemui kendala dalam pemasaran produk.

“Saat ini, pemasaran lebih banyak dilakukan secara online melalui UD Dewandaru Flora, tetapi harapannya adalah bisa memasarkan produk ini dalam jumlah besar ke area pariwisata, misalnya dengan disajikan sebagai welcome drink di hotel-hotel di Bali,” ungkap Luh Suriani.

Beras Merah memiliki kandungan gizi yang tinggi, termasuk tiosidan dan serat, yang bermanfaat dalam mencegah berbagai penyakit seperti kencing manis, kolesterol, dan tekanan darah tinggi. Kandungan Orisanol dalam Beras Merah, yang merupakan Vitamin E tahan panas, juga menjadi nilai tambah bagi Teh Beras Merah sebagai produk yang menarik minat sebagai ikon pariwisata.

“Kami berharap pemerintah daerah dapat membantu mempromosikan produk lokal, seperti Teh Beras Merah Senganan, kepada hotel-hotel di Bali. Dengan cara ini, produk lokal dapat tetap eksis dan tamu mancanegara akan lebih memahami dan menghargai nilai-nilai lokal dengan membeli produk-produk yang ramah lingkungan dan berbahan organik,” tutupnya. (*/yak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *