BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Groundbreaking Shortcut Singaraja–Mengwitani Titik 9–10 Dimulai, Koster Bidik Rampung Sebelum 2030

whatsapp image 2026 01 07 at 15.20.01
Gubernur Bali Wayan Koster didampingi pejabat Kementerian PUPR dan jajaran terkait memberikan keterangan pers usai pelaksanaan groundbreaking pembangunan Shortcut Singaraja–Mengwitani Titik 9–10 di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Pembangunan jalan pintas (shortcut) Singaraja–Mengwitani kembali berlanjut. Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi memulai pembangunan titik 9 dan 10 melalui prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) yang digelar di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Rabu (7/1/2026). Proyek strategis ini menjadi bagian penting penguatan konektivitas Bali Utara dan Bali Selatan, dengan target penyelesaian pada 2027.

Gubernur Koster menyampaikan bahwa total anggaran pembangunan shortcut pada titik 9 dan 10 mencapai Rp667,57 miliar yang bersumber dari Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ruas jalan yang dibangun memiliki panjang sekitar 3,9 kilometer dan dilengkapi enam unit jembatan.

“Pembangunan shortcut titik 9 dan 10 dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama dan kedua telah dimulai pembangunannya. Sedang tahap ketiga sedang dalam proses tender,” ujar Koster.

Selain itu, Pemprov Bali juga menyiapkan kelanjutan pembangunan shortcut hingga titik 11 dan 12. Koster mengakui, medan pada ruas tersebut jauh lebih berat dibandingkan titik-titik sebelumnya, namun memiliki peran krusial dalam memperlancar arus lalu lintas dari Singaraja menuju Denpasar.

“Penamaan proyek diubah dari Mengwitani–Singaraja menjadi Singaraja–Mengwitani. Perubahan ini agar penanganan dari wilayah Singaraja bisa diprioritaskan karena kondisi medannya jauh lebih berat dibandingkan titik 1 dan 2,” jelasnya.

Untuk pembangunan titik 11 dan 12, kebutuhan anggaran pembebasan lahan diperkirakan mencapai Rp80 miliar. Koster mengungkapkan telah berkoordinasi dengan DPRD Bali agar proses pembebasan lahan dapat segera direalisasikan.

“Kalau bisa, 50 persen anggaran pembebasan lahan dialokasikan di APBD Perubahan 2026 dan sisanya di APBD Induk 2027. Dengan begitu, prosesnya bisa dimulai akhir 2027 dan awal 2028 sudah bisa dilakukan groundbreaking,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh pembangunan shortcut Singaraja–Mengwitani dari titik 1 hingga titik 12 ditargetkan tuntas sebelum masa jabatan periode keduanya berakhir pada 20 Februari 2030.

“Yang penting seluruh shortcut dari titik 1 sampai 12 bisa selesai. Itu akan menjadi kenangan manis bagi masyarakat Bali, khususnya masyarakat Buleleng,” tegas Koster.

Sementara itu, Direktur Pembangunan Jalan Direktorat Jenderal Bina Marga, Asep Syarif Hidayat, menyatakan dukungan penuh Kementerian Pekerjaan Umum terhadap proyek tersebut. Untuk penanganan titik 9 dan 10, total panjang pekerjaan mencapai 3,90 kilometer, terdiri dari jalan sepanjang 2,95 kilometer dan jembatan sepanjang 942 meter.

Pada Paket 1, proyek ini memiliki nilai kontrak Rp290,84 miliar dengan masa pelaksanaan 750 hari kalender. Lingkup pekerjaan mencakup pembangunan jalan sepanjang 0,93 kilometer dan tiga jembatan dengan total panjang 593 meter, yang dikerjakan oleh Waskita–Sinarbali KSO dengan pendanaan SBSN Tahun Anggaran 2025–2027.

Asep memaparkan bahwa kondisi eksisting ruas Singaraja–Mengwitani selama ini tergolong berisiko tinggi, dengan tingkat kelandaian mencapai 27 persen serta angka kecelakaan sekitar 140 kasus per tahun dengan 16 korban meninggal dunia. Melalui perbaikan geometrik jalan, waktu tempuh diproyeksikan turun signifikan dari 21,22 menit menjadi 8,61 menit, jumlah tikungan berkurang drastis, dan kelandaian maksimal ditekan hingga 10 persen.

“Manfaatnya sangat signifikan, mulai dari peningkatan keselamatan, efisiensi perjalanan, hingga pengurangan emisi karbon kendaraan sekitar 10 persen,” ungkapnya.

Meski demikian, Asep menambahkan bahwa untuk menuntaskan seluruh ruas Singaraja–Mengwitani masih diperlukan pembangunan lanjutan pada Titik 1–2, Paket 3 Titik 9–10, serta Titik 11–12, dengan kebutuhan anggaran tambahan sekitar Rp512 miliar. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *