BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Kerja Sama Perumda MGS Badung–Food Station Jakarta Perkuat Pasok Beras Bali

rmu badung.1
Bupati Adi Arnawa saat meninjau Rice Milling Unit (RMU) Perumda MGS, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. (foto/red)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BADUNG (terasbalinews.com). Upaya menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga gabah di Bali mendapat penguatan baru. Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS) Kabupaten Badung resmi menjalin kerja sama dengan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Jakarta, PT Food Station Tjipinang Jaya, untuk memperkuat rantai pasok beras di Pulau Dewata.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) atau Nota Kesepahaman (MoU) tersebut berlangsung di Rice Milling Unit (RMU) Perumda MGS, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Kamis (5/2/2026). Acara ini turut disaksikan langsung oleh Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa serta Ketua Komisi III DPRD Badung I Made Ponda Wirawan, bersama sejumlah pejabat dan undangan terkait.

Kolaborasi antardua BUMD ini diarahkan untuk memperluas penyerapan gabah petani sekaligus memastikan surplus produksi beras di Badung tetap terserap pasar. Pemerintah daerah mendorong sinergi antar-BUMD agar hasil panen petani tidak terbuang, sekaligus menjaga stabilitas harga gabah di tingkat produsen.

Data produksi pertanian Kabupaten Badung mencatat, sepanjang 2025 daerah ini mampu menghasilkan sekitar 57.338 ton beras. Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya berkisar 49.441 ton per tahun. Kondisi surplus inilah yang menjadi dasar penguatan kerja sama distribusi, agar kelebihan produksi memiliki pasar yang jelas dan berkelanjutan.

Direktur Utama Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kompiang Gede Pasek Wedha, menegaskan kerja sama ini bukan untuk mengirim beras Badung ke Jakarta. Menurutnya, kolaborasi ini justru memanfaatkan jaringan pasar Food Station yang telah lebih dulu berkembang di Bali.

“Bukan Badung mengirim beras ke Jakarta. Kebetulan Food Station memiliki market di Bali, dan kita mengisi market tersebut. Saat ini nilai market yang kita isi di Bali hampir mencapai Rp1 miliar per bulan,” jelasnya.

bumd1.1
Bupati Wayan Adi Arnawa menghadiri penandatanganan MoU antara Perumda Pasar dan Pangan MGS dengan BUMD Jakarta, serta meninjau mesin penggiling padi di Kantor Unit Pengelolaan Pangan Perumda Pasar dan Pangan MGS, Kamis (5/2). (foto/ist)

Ia menambahkan, kapasitas produksi Rice Milling Unit (RMU) Perumda MGS tergolong besar. Jika dioperasikan secara optimal selama 24 jam, RMU mampu memproduksi ratusan ton beras setiap bulan.

“Kalau beroperasi penuh 24 jam, secara kasar produksi bisa mencapai sekitar 600 ton per bulan,” ungkapnya.

Pada tahap awal, target penyerapan ditetapkan sekitar 500 ton beras per bulan. Untuk memenuhi angka tersebut, dibutuhkan pasokan gabah sekitar 1.000 ton per bulan yang berasal dari petani Badung dan wilayah sekitarnya.

“Untuk kebutuhan itu sementara masih mencukupi, karena kondisi produksi kita memang surplus,” katanya.

Selain beras, kerja sama antardua BUMD pangan ini juga membuka peluang pengembangan komoditas strategis lain, seperti gula, minyak, dan produk pangan olahan lainnya sebagai bagian dari upaya hilirisasi sektor pangan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Dodot Tri Widodo, menilai Bali sebagai pasar yang sangat potensial. Tingginya aktivitas pariwisata membuat kebutuhan pangan, khususnya beras, terus meningkat, sementara sebagian pasokan masih bergantung dari luar daerah.

“Badung kami pilih karena market-nya sangat besar, terutama dari sektor hotel, restoran, dan katering. Saat ini penjualan kami di Bali mencapai sekitar Rp1 sampai Rp2 miliar per bulan, tidak hanya beras tetapi juga gula,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan, berdasarkan data kebutuhan pangan, Bali masih mengalami defisit pasokan beras secara keseluruhan.

“Kalau mengacu pada data BPS, kebutuhan beras Bali sekitar 500 ribu ton per tahun. Selama ini masih disuplai dari Jawa Timur dan NTB,” jelasnya.

Melalui kerja sama ini, Food Station berharap penyerapan gabah petani lokal semakin luas, harga tetap stabil, serta ketahanan pangan Bali dapat terjaga secara berkelanjutan di tengah tekanan kebutuhan dari sektor pariwisata. (red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *