BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Gitgit Disiapkan Jadi Sentra Apel dan Agrowisata Baru di Buleleng

whatsapp image 2026 03 05 at 13.15.29
Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat, S.P. (foto/ndr).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (Distan) tengah menyiapkan program budidaya apel di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. Program ini dirancang sebagai langkah diversifikasi komoditas perkebunan sekaligus penguatan potensi agrowisata di kawasan wisata tersebut.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat, S.P., menjelaskan bahwa rencana pengembangan apel di Desa Gitgit merupakan tindak lanjut dari aspirasi masyarakat yang telah disampaikan sejak beberapa tahun lalu melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes).

“Kami mendapatkan usulan dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrenbangdes) di Desa Gitgit sejak empat tahun lalu. Masyarakat di sana ingin mengusulkan jenis komoditas apel, padahal existing (tanaman yang ada) sekarang adalah cengkeh,” ujar Melandrat, Kamis (5/3/2026).

Menurutnya, pengembangan komoditas apel ini merupakan bagian dari upaya memperkaya jenis tanaman pada lahan perkebunan masyarakat yang selama ini didominasi tanaman cengkeh. Selain itu, konsep pengembangannya juga diarahkan untuk mendukung sektor pariwisata, mengingat Desa Gitgit memiliki daya tarik wisata alam yang cukup terkenal, yaitu Air Terjun Gitgit.

Dalam perencanaannya, pohon apel akan ditanam di area sepanjang jalur menuju lokasi air terjun sehingga dapat menjadi pemandangan sekaligus daya tarik tambahan bagi wisatawan yang datang berkunjung.

“Areal nanti yang akan ditanami adalah areal di sekitaran menuju jalan air terjun. Sepanjang jalan itu nanti akan ditanami dengan tanaman apel,” jelasnya.

Melandrat mengakui bahwa budidaya apel memerlukan teknik perawatan yang lebih kompleks dibandingkan tanaman perkebunan lainnya. Oleh karena itu, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada para petani agar proses budidaya dapat berjalan dengan baik.

“Kalau apel itu susah, dia harus sistem stressing, dahan ditarik dan dilengkungkan baru dia akan keluar bunga. Jadi ekstra perawatannya. Ini tidak lepas dari upaya kami melakukan pendampingan,” kata Melandrat.

Terkait varietas yang akan dikembangkan, Distan Buleleng berencana menggunakan jenis apel yang sudah terbukti mampu tumbuh di Indonesia, seperti varietas yang berkembang di wilayah Malang. Ia juga mengungkapkan bahwa Bali, khususnya kawasan Kintamani, pada masa lalu pernah dikenal sebagai daerah penghasil apel sebelum tanaman tersebut banyak ditebang dan bibitnya kemudian dikembangkan di Malang.

Lebih jauh Melandrat menegaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi buah, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru melalui konsep wisata petik buah yang memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan.

“Sejauh mana budidaya apel berdampak pada ekonomi petani? Kalau arahnya ke agrowisata, maka petik buah akan menjadi nilai tambah. Nilainya tidak tergantikan karena ada kepuasan batin wisatawan bisa memilih dan memetik sendiri bersama keluarga,” paparnya.

Ia mencontohkan keberhasilan agrowisata anggur di wilayah Gerokgak yang mampu meningkatkan nilai jual produk karena menawarkan pengalaman wisata, bukan sekadar komoditas buah.

Distan Buleleng menargetkan program penanaman apel di Desa Gitgit dapat mulai direalisasikan pada tahun ini dengan menyesuaikan kesiapan lahan serta ketersediaan anggaran.

“Rencananya tahun ini kita eksekusi. Ini akan menambah varian dan menjadi ikon baru agrowisata di Gitgit,” tandas Melandrat. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *