DENPASAR (terasbalinews.com). Optimisme dunia usaha di Bali terus menguat. Aktivitas ekonomi pada Triwulan III 2026 mencatat lonjakan signifikan, ditandai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) kegiatan usaha yang mencapai 63,06 persen, naik tajam dari 49,32 persen pada triwulan sebelumnya.
Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia tersebut menunjukkan pelaku usaha semakin yakin terhadap prospek ekonomi Bali. Penguatan terutama ditopang kinerja pariwisata, konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas sektor jasa yang tetap solid.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, perbaikan aktivitas dunia usaha sejalan dengan terjaganya kinerja ekonomi Bali yang ditopang tingginya mobilitas wisatawan dan kuatnya konsumsi masyarakat.
“Temuan ini memperkuat indikasi bahwa perekonomian Bali masih berada pada jalur pertumbuhan yang solid,” ujar Achris dalam siaran pers, Kamis (29/10/2026).
Pariwisata masih menjadi penggerak utama. Hal itu tercermin dari SBT Lapangan Usaha (LU) Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang naik dari 14,62 persen pada Triwulan II menjadi 19,12 persen pada Triwulan III 2026.
Penguatan tersebut berjalan beriringan dengan meningkatnya arus wisatawan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara pada Juli-Agustus 2026 mencapai sekitar 691,9 ribu kunjungan per bulan. Angka itu meningkat 19,5 persen dibandingkan rata-rata Triwulan II yang berada di kisaran 578,9 ribu kunjungan per bulan.
Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang juga ikut terdongkrak. Pada Juli-Agustus 2026, rata-rata TPK mencapai 67,74 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Triwulan II sebesar 61,32 persen.
Dampaknya tidak berhenti di hotel dan restoran. Meningkatnya aktivitas wisatawan ikut menggerakkan transportasi, perdagangan dan berbagai jasa pendukung lainnya.
SBT LU Transportasi dan Pergudangan, misalnya, membaik dari minus 1,39 persen menjadi 0 persen. Sementara LU Jasa Lainnya meningkat dari 0 persen menjadi 1,57 persen.
“Geliat tersebut menunjukkan kuatnya efek pengganda pariwisata terhadap perekonomian Bali. Ketika mobilitas wisatawan meningkat, rantai usaha di berbagai sektor ikut bergerak,” tuturnya.
Namun, optimisme dunia usaha Bali pada triwulan ketiga tidak semata-mata bersumber dari pariwisata. Sejumlah sektor jasa juga menunjukkan perbaikan.
LU Informasi dan Komunikasi mencatat kenaikan SBT dari 3,14 persen menjadi 6,27 persen. Peningkatan ini sejalan dengan semakin besarnya kebutuhan layanan komunikasi dan digital dalam mendukung aktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Sektor Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib juga menguat dari 3,33 persen menjadi 5,55 persen. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb), realisasi belanja daerah di Bali hingga Agustus 2026 tumbuh 9,45 persen secara tahunan, dengan belanja operasi meningkat 9,75 persen.
Sektor pendidikan turut mencatat penguatan. SBT LU Jasa Pendidikan naik dari 2,39 persen menjadi 4,78 persen, sejalan dengan dimulainya tahun ajaran baru pada Juli 2026.
Penguatan juga terjadi pada sejumlah sektor lain, termasuk pertanian, kehutanan dan perikanan, industri pengolahan serta jasa keuangan.
“Kondisi ini menjadi sinyal bahwa sumber pertumbuhan ekonomi Bali mulai semakin menyebar. Pariwisata memang masih menjadi motor utama, tetapi geliat ekonomi mulai terasa lebih luas di berbagai lapangan usaha,” terangnya.
Memasuki Triwulan IV 2026, dunia usaha Bali diperkirakan tetap tumbuh positif meski momentumnya sedikit melandai. SBT kegiatan usaha diprakirakan berada di level 47,76 persen.
Optimisme tersebut ditopang konsumsi masyarakat yang diperkirakan tetap terjaga, meningkatnya aktivitas perdagangan menjelang akhir tahun, serta berlanjutnya kegiatan pariwisata.
Perdagangan besar dan eceran diperkirakan menguat seiring meningkatnya permintaan domestik dan distribusi barang. Industri pengolahan juga berpeluang tumbuh didorong permintaan terhadap produk makanan-minuman dan produk industri lokal.
Sementara itu, meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan diperkirakan ikut mendorong aktivitas sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial.
“Dengan berbagai indikator tersebut, hasil SKDU BI memperlihatkan satu pesan penting: hingga penghujung 2026, pelaku usaha masih melihat Bali sebagai ekonomi yang memiliki ruang tumbuh. Pariwisata tetap menjadi lokomotif, tetapi semakin banyak gerbong ekonomi yang ikut bergerak,” pungkasnya. (red)














