BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

ASITA Bali Dorong Wisata Regeneratif

Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra. (foto/ist)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BADUNG (terasbalinews.com). Pariwisata Bali sedang menghadapi tantangan yang tidak lagi cukup dijawab dengan mendatangkan sebanyak-banyaknya wisatawan. Di tengah persoalan lingkungan, kepadatan lalu lintas hingga gangguan pasokan bahan bakar minyak (BBM), industri pariwisata mulai didorong untuk memikirkan kembali cara Bali menerima dan melayani wisatawan.

Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra, menilai salah satu arah yang perlu diperkuat adalah konsep “regenerative tourism” atau pariwisata regeneratif.

Konsep ini menempatkan wisatawan bukan semata sebagai konsumen destinasi, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga dan memberi manfaat kembali kepada destinasi yang mereka kunjungi.

“Wisatawan datang ke Bali ini tidak hanya berkunjung, tetapi mereka bisa memberikan sekaligus menjaga destinasi itu agar tetap bisa bertumbuh,” kata Winastra di sela-sela Pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali 2026 bertema “Repositioning the Future of Tourism” di InterContinental Bali Resort Jimbaran, Badung, Jumat (16/10/2026).

Menurut dia, penerapan pariwisata regeneratif dapat dimulai dari kegiatan sederhana di tingkat desa wisata. Wisatawan, misalnya, tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi ikut menanam pohon, menjaga lingkungan, hingga berinteraksi dan berbagi manfaat dengan masyarakat lokal.

“Misalnya ada kegiatan di suatu tempat di desa wisata, mereka menanam pohon dan juga menjaga kelestarian alam yang ada di sana, serta sharing dengan masyarakat lokal,” ujarnya.

Bagi Winastra, pola semacam itu perlu diperluas. Ke depan, setiap wisatawan yang datang ke Bali diharapkan tidak berhenti pada aktivitas menikmati destinasi, melainkan ikut memberikan kontribusi agar destinasi tersebut tetap hidup dan berkembang.

Gagasan itu menjadi semakin relevan ketika Bali berhadapan dengan persoalan daya dukung pariwisata. Kepadatan kawasan wisata, kemacetan, persoalan lingkungan, hingga tekanan terhadap infrastruktur menjadi tanda bahwa pertumbuhan pariwisata membutuhkan cara pandang baru.

Di sisi lain, persoalan mobilitas saat ini juga mulai menjadi perhatian pelaku usaha perjalanan wisata.

Winastra mengatakan kendaraan-kendaraan berukuran kecil, terutama van yang banyak digunakan wisatawan, menghadapi kendala dalam mengatur jadwal perjalanan akibat kondisi lalu lintas. Kemacetan bahkan disebut telah mengganggu perjalanan wisatawan menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai.

“Anggota ASITA ada yang tidak bisa ke airport karena macet di sekitar pom bensin,” katanya.

Karena itu, ASITA berharap pemerintah memberi perhatian terhadap ruas-ruas jalan yang menjadi akses utama menuju bandara. Infrastruktur jalan dinilai perlu mampu mengantisipasi kepadatan sehingga persoalan di jalan tidak berujung pada wisatawan yang terlambat atau bahkan gagal mengejar penerbangan.

“Kami berharap ruas jalan yang dipakai untuk menuju tempat-tempat, misalnya airport, diberikan jalan yang lebih luas sehingga tidak sampai menimbulkan wisatawannya tidak bisa terbang,” ujarnya.

Persoalan BBM juga ikut memberi warna pada situasi pariwisata Bali belakangan ini. Meski Winastra mengatakan sejauh ini belum terjadi pembatalan perjalanan wisata secara signifikan, agen perjalanan mulai melakukan penyesuaian terhadap rute dan aktivitas wisatawan yang sudah berada di Bali.

Wisatawan yang sebelumnya dijadwalkan beraktivitas di kawasan Bali Selatan, misalnya, diarahkan ke destinasi lain yang tingkat keramaiannya lebih rendah.

“Yang sudah di Bali, mereka mengubah kegiatannya. Tadinya di Bali Selatan, ASITA Bali membawa ke tempat-tempat yang lebih sedikit keramaiannya,” katanya.

Menurut Winastra, kondisi tersebut tidak hanya terjadi di satu kawasan. Karena itu, pelaku industri pariwisata perlu memahami situasi secara bersama-sama dan menyesuaikan pola perjalanan agar aktivitas wisata tetap berjalan.

Ia berharap persoalan kelangkaan BBM tidak berlangsung terlalu lama. Kepastian kondisi di lapangan penting bagi industri perjalanan wisata, termasuk ketika harus memberikan informasi kepada mitra usaha di luar negeri.

“Harapan kami BBM langka di Bali jangan sampai terlalu lama, agar kami juga bisa menyampaikan kepada partner di luar negeri bahwa situasi ini bisa dipahami bersama,” ujarnya.

Bagi ASITA Bali, persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa masa depan pariwisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah kunjungan. Kualitas destinasi, daya dukung lingkungan, kenyamanan mobilitas, serta manfaat yang diterima masyarakat lokal menjadi bagian yang semakin penting.

Pada titik inilah gagasan “regenerative tourism” mendapat relevansinya: wisatawan datang bukan hanya untuk mengambil pengalaman dari Bali, tetapi juga meninggalkan sesuatu yang membuat Bali tetap layak dikunjungi pada masa mendatang. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *