BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Geopolitik Tekan Ekspor, Gung Bayu Joni Siapkan Bali sebagai Hub Logistik Internasional

gus bayu
Ketua Umum BPD Provinsi Bali Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), Dr. Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra, S.E., M.M. (foto/ist)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BADUNG (terasbalinews.com). Gejolak logistik global akibat konflik geopolitik mulai memberikan tekanan nyata terhadap daya saing ekspor Indonesia. Kenaikan biaya pengiriman, perubahan jalur pelayaran internasional, hingga meningkatnya harga distribusi menjadi tantangan serius yang tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga masyarakat luas. Di tengah situasi tersebut, Bali dinilai memiliki peluang strategis untuk mengambil peran sebagai pusat logistik dan perdagangan internasional, khususnya bagi kawasan Indonesia Timur.

Ketua Umum BPD Provinsi Bali Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI/ILFA), Dr. Anak Agung Bagus Bayu Joni Saputra, SE., MM., atau yang akrab disapa Gung Bayu Joni, Selasa (7/4/2026) melihat kondisi global saat ini sebagai peringatan sekaligus momentum untuk memperkuat sistem logistik nasional. Menurutnya, dinamika geopolitik kembali menegaskan bahwa sektor logistik merupakan urat nadi perekonomian yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Ketika konflik terjadi di berbagai belahan dunia, terutama di kawasan Timur Tengah, jalur pelayaran internasional ikut terdampak. Kapal-kapal pengangkut barang harus memutar lebih jauh untuk menghindari wilayah rawan konflik, yang berujung pada peningkatan waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar.

“Dampaknya langsung terasa pada biaya operasional logistik yang meningkat dan pada akhirnya menekan harga barang di pasar,” cetusnya.

Kondisi ini, kata Gung Bayu Joni, tidak hanya berdampak pada eksportir atau pelaku industri, tetapi juga merembet hingga ke kehidupan masyarakat sehari-hari. Kenaikan biaya logistik akan mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok, sehingga daya beli masyarakat ikut terpengaruh.

“Dalam situasi seperti ini, logistik tidak lagi sekadar persoalan pengiriman barang, tetapi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi,” ungkapnya.

Tekanan juga dirasakan oleh sektor ekspor. Meningkatnya biaya logistik membuat produk Indonesia harus bersaing lebih keras di pasar internasional. Eksportir menghadapi dilema karena biaya produksi dan distribusi meningkat, sementara harga jual di pasar global tidak selalu bisa disesuaikan.

“Jika kondisi ini terus berlanjut, daya saing produk nasional berpotensi melemah dan kalah dari negara lain yang memiliki sistem logistik lebih efisien,” katanya mengingatkan.

Meski demikian, Gung Bayu Joni melihat situasi ini sebagai peluang strategis bagi Indonesia, khususnya Bali. Ia menilai Bali memiliki posisi geografis yang kuat, konektivitas internasional yang memadai, serta potensi komoditas unggulan dari Indonesia Timur yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan perdagangan global.

“Dengan dukungan infrastruktur yang tepat, Bali berpeluang menjadi hub logistik internasional yang menghubungkan pasar domestik dan dunia,” ujarnya.

Potensi tersebut, menurutnya, harus diikuti dengan langkah konkret. Pembangunan infrastruktur logistik seperti pelabuhan ekspor, fasilitas cold storage, serta sistem distribusi berbasis digital menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, peluang besar yang dimiliki Bali akan sulit diwujudkan secara optimal.

Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci dalam memperkuat ekosistem logistik. Perluasan pasar ekspor ke wilayah yang lebih stabil juga perlu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada kawasan yang terdampak konflik global.

“Namun, pembukaan pasar baru harus berjalan seiring dengan kesiapan sistem logistik agar distribusi tetap efisien dan berkelanjutan,” ucapnya.

Lebih jauh, situasi global saat ini menjadi pengingat bahwa Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam pengelolaan logistik. Transformasi menuju sistem yang lebih adaptif, efisien, dan terintegrasi harus segera dilakukan agar perekonomian tetap stabil di tengah ketidakpastian global. Logistik, dalam konteks ini, menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional.

Di sisi lain, Gung Bayu Joni juga menekankan pentingnya stabilitas global bagi kesejahteraan bersama. Konflik geopolitik tidak hanya berdampak pada perdagangan, tetapi juga pada kehidupan manusia secara luas. Karena itu, ia berharap situasi global dapat segera membaik agar rantai distribusi dunia kembali stabil.

“Bagi Bali, momentum ini menjadi peluang untuk naik kelas dari sekadar daerah pariwisata menjadi pusat perdagangan dan logistik internasional. Dengan strategi yang tepat, penguatan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor, Bali diyakini mampu menjadi bagian penting dari solusi dalam menghadapi tantangan logistik global,” katanya mengakhiri.

Pada akhirnya, peran Bali dalam sistem logistik nasional dan internasional bukan lagi sekadar wacana, tetapi kebutuhan strategis. Di tengah gejolak global, kemampuan daerah untuk beradaptasi dan mengambil peluang akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi di masa depan. (yak)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *