BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.

Komunitas Parkinson Baparwa Diluncurkan, Bawa Pesan Parkinson Dapat Diobati

edit 1
Membawa pesan edukasi bahwa penyaki Parkinson dapat diobati, Komunitas Parkinson Baparwa diluncurkan (foto/pri)
banner 120x600

DENPASAR (terasbalinews.com). Penyakit Parkinson, yang mempengaruhi respon syaraf anggota tubuh, dapat diobati dengan pengobatan teratur melalui tenaga medis. Hal tersebut nampak dalam peluncuran Komunitas Parkinson Bali Parkinson Warriors (Baparwa) oleh Kelompok Studi (Pokdi) Movement Disorders, Perhimpunan Dokter Spesialis Syaraf Indonesia (Perdossi) Cabang Denpasar, serangkaian perayaan Hari Penyakit Parkinson Sedunia 2023, di Two Fat Monks Restaurant, Denpasar, Minggu (16/4/2023).

Menurut Ketua Pokdi Movement Disorders Perdossi Cabang Denpasar, Prof. Dr. dr. D.P.G. Purwa Samatra, Sp.S(K), penyakit Parkinson dapat ditangani, sehingga dapat membua penderita beraktivitas seperti biasa.

“Penyakit Parkinson seperti penyakit kencing manis atau hipertensi, bisa dikontrol melalui disiplin berobat, ngeh bahwa dirinya menderita Parkinson, serta penanganan oleh dokter syaraf. Syukur, obat-obatan tersebut ditanggung BPJS,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Purwa Samatra mengatakan, menyambut baik kehadiran Komunitas Parkinson Baparwa di Bali, sebagai wadah bagi penyandang Parkinson di Bali untuk saling mendukung satu sama lain.

“Dengan mengumpulkan para penyandang Parkinson, mereka akan merasa tidak terlalu rendah diri, depresi. Dengan berkumpul sesama penyandang penyakit yang sama, mereka lebih percaya diri, saling men-support satu sama lain,” tambahnya.

Sementara, Ketua Panitia World Parkinson’s Day, dr. Sri Yenni Trisnawati, M.Biomed, Sp.S(K), berharap Komunitas Parkinson Baparwa dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat, dan penyandang Parkinson pada khususnya mengenai penyakit Parkinson.

“Ke depan, kita akan berkumpul secara rutin, memberikan penyuluhan tentang cara perawatan pasien-pasien Parkinson. Kemudian untuk meningkatkan pengetahuannya, sehingga kita mengharapkan pasien Parkinson menjadi pasien yang cerdas, cerdas untuk merawat dirinya. Juga bagi keluarganya, juga cerdas untuk merawat pasien Parkinson,” ujar dr. Sri Yenni.

Mengenai penyakit Parkinson, dr. Sri Yenni menerangkan bahwa penyakit ini umumnya dialami lansia berusia di atas 60 tahun, dengan penyandang mencapai 2% dari seluruh populasi lansia di Indonesia.

“Secara epidemiologi, penyandang Parkinson di Indonesia semakin meningkat setiap tahun,” ungkapnya.

Selain mengadakan peluncuran Komunitas Parkinson Baparwa, kegiatan juga diisi dengan penyuluhan mengenai gangguan tidur pada penyandang Parkinson dan pengobatan energi prana sebagai terapi alternatif untuk menangani pasien Parkinson. (pri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *