BULELENG (terasbalinews.com) – Pemerintah Kabupaten Buleleng menyiapkan Parade Budaya yang mengangkat kisah perjalanan tokoh pendiri Buleleng, Ki Barak Panji Sakti, sebagai salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan HUT ke-422 Kota Singaraja. Kegiatan tersebut dijadwalkan mencapai puncaknya pada 30 Maret mendatang.
Hal ini disampaikan I Nyoman Sutjidra saat jumpa pers bersama puluhan awak media di Ranggon Sunset, Jumat (6/3). Ia hadir didampingi jajaran Pemkab Buleleng, termasuk Asisten I dan II Setda serta Kepala Dinas Kominfosanti Buleleng.
Dalam keterangannya, Sutjidra menjelaskan bahwa parade budaya tahun ini dirancang berbeda dari pelaksanaan sebelumnya. Setiap kecamatan di Kabupaten Buleleng akan menampilkan fragmen atau episode perjalanan sejarah Ki Barak Panji Sakti melalui pertunjukan seni dan budaya.
“Dalam parade budaya ini masing-masing kecamatan akan membawakan episode perjalanan Ki Barak Panji Sakti. Jadi masyarakat bisa melihat kembali bagaimana perjalanan sejarah berdirinya Buleleng melalui penampilan seni dan budaya,” ujarnya.
Parade tersebut juga menjadi implementasi tema HUT ke-422 Kota Singaraja, “Bhinneka Shanti Jagadhita”, yang menggambarkan semangat keberagaman, keharmonisan, dan persatuan masyarakat Buleleng.
Selain kisah sejarah Ki Barak Panji Sakti, parade budaya akan menampilkan beragam ekspresi budaya yang hidup di Buleleng. Tidak hanya budaya bernuansa Hindu, tetapi juga budaya masyarakat Muslim, Konghucu, serta berbagai etnis yang hidup berdampingan di wilayah tersebut.
“Buleleng merupakan daerah yang sangat heterogen. Karena itu melalui parade budaya ini kita ingin menunjukkan bahwa keberagaman budaya di Buleleng merupakan kekuatan yang harus terus dijaga,” jelas Sutjidra.
Berbagai kegiatan lain juga disiapkan untuk memeriahkan perayaan tersebut. Salah satunya lomba Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah.
Selain itu, akan digelar Singaraja Fun Run yang mengambil lokasi di kawasan Pelabuhan Buleleng. Kegiatan ini sekaligus menjadi upaya mengingat kembali sejarah pelabuhan tersebut yang dahulu menjadi salah satu pintu perdagangan penting di Bali bahkan wilayah Indonesia Timur.
“Pelabuhan Buleleng dulu merupakan pelabuhan alam yang sangat penting, menjadi pintu keluar masuk perdagangan dan ekspor dari wilayah Indonesia Timur. Momentum ini sekaligus menjadi upaya kita mengingat kembali sejarah panjang perjalanan Buleleng,” terangnya.
Puncak perayaan HUT ke-422 Kota Singaraja rencananya akan dipusatkan di Taman Bung Karno dengan berbagai pementasan seni dan budaya.
Pada momentum tersebut juga akan diluncurkan Kopi Robusta Lemukih yang telah memperoleh indikasi geografis. Diharapkan, kopi khas Desa Lemukih ini mampu meningkatkan nilai ekonomi petani sekaligus memperkuat identitas kopi lokal Buleleng.
Selain itu, Pemkab Buleleng juga akan menggelar lomba Lawar sebagai upaya menjaga dan melestarikan tradisi kuliner Bali yang selama ini identik dengan kegiatan adat dan keagamaan.
Dengan beragam kegiatan tersebut, peringatan HUT ke-422 Kota Singaraja diharapkan tidak hanya menjadi ajang perayaan semata, tetapi juga memperkuat identitas budaya, menumbuhkan semangat kebersamaan, serta mendorong kesejahteraan masyarakat Buleleng. *ndr














