BADUNG (terasbalinews.com). Tragedi tanah longsor yang menghancurkan kawasan glamping Pelaga Eco Park di Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, menjadi peringatan serius bagi keselamatan destinasi wisata berbasis alam di Bali. Peristiwa yang dipicu hujan berintensitas tinggi tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga membuka kembali persoalan mitigasi bencana dan standar keselamatan di kawasan wisata dengan kondisi geografis ekstrem.
Wakil Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Badung, I Gusti Lanang Umbara, S.Sos., mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kawasan wisata yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi. Ia menilai, pengembangan pariwisata alam harus diimbangi dengan sistem mitigasi dan standar keselamatan yang memadai agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Lanang Umbara menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut. Ia berharap proses pencarian terhadap korban yang belum ditemukan dapat berjalan lancar dan seluruh korban segera berhasil dievakuasi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, dua orang, masing-masing warga negara Indonesia (WNI) dan warga negara asing (WNA), masih dalam pencarian tim penyelamat.
“Kami berharap seluruh korban yang belum ditemukan segera berhasil dievakuasi dan proses pencarian berjalan lancar,” ujarnya saat dihubungi awak media di Kabupaten Badung, Selasa (3/11/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan informasi dari pengelola, upaya antisipasi sebenarnya telah dilakukan sebelum longsor terjadi. Para tamu yang menginap di kawasan glamping tersebut disebut sempat ditawarkan untuk berpindah ke lokasi penginapan lain yang dinilai lebih aman. Namun, para tamu dikabarkan memilih tetap bertahan di lokasi semula.
Setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut, longsor kemudian menerjang dan menghancurkan bangunan glamping.
Meski demikian, menurut Lanang Umbara, peristiwa ini harus menjadi bahan evaluasi bersama, terutama dalam mengantisipasi ancaman bencana alam di kawasan pariwisata.
“Dengan kejadian ini, tentunya menjadi evaluasi bagi kita semua ke depan. Kita harus melakukan evaluasi terkait potensi-potensi bencana yang bisa terjadi akibat faktor alam, seperti hujan lebat, angin, dan sebagainya,” tegasnya.
Lanang Umbara menegaskan, kawasan Pelaga dan sekitarnya memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang cukup tinggi, terutama ketika memasuki musim penghujan. Kondisi geografis berupa perbukitan, tebing curam, serta kontur jalan yang ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi keselamatan masyarakat maupun wisatawan.
Bahkan, ancaman longsor tidak hanya terdapat di kawasan destinasi wisata, tetapi juga mengintai sejumlah jalur utama yang setiap hari digunakan masyarakat untuk beraktivitas.
Ia mencontohkan ruas jalan dari Pelaga menuju Pelaga Barat, termasuk kawasan Semanik, Dingin, Auman hingga Sandaan. Di sejumlah titik, kondisi jalan cukup ekstrem dan hampir setiap kali hujan turun terjadi longsor.
“Di jalur utama dari Pelaga menuju Pelaga Barat, seperti Semanik, Dingin, Auman hingga Sandaan, kondisi jalannya cukup ekstrem. Setiap kali hujan, hampir selalu terjadi longsor,” ungkapnya.
Kendati selama ini kejadian longsor di sejumlah jalur tersebut belum sampai menimbulkan korban jiwa dari masyarakat setempat, Lanang Umbara mengingatkan agar kondisi itu tidak membuat pemerintah dan pihak terkait lengah. Sebab, potensi bencana dapat meningkat sewaktu-waktu, terutama ketika hujan deras mengguyur dalam waktu cukup lama.
Menurutnya, mitigasi terhadap kawasan rawan longsor telah dikoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten Badung, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Badung, serta Pemerintah Provinsi Bali.
Sebagai langkah jangka panjang, ia mendorong kajian teknis dan komprehensif terhadap ruas-ruas jalan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi. Pembangunan jalan pintas atau shortcut, termasuk jembatan di titik tertentu, dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap jalur yang melintasi tebing curam.
“Kita sudah melakukan mitigasi dan kajian. Hal ini juga sudah disampaikan kepada pemerintah, baik Pemerintah Kabupaten Badung maupun Pemerintah Provinsi Bali. Jalan-jalan yang curam dan memiliki potensi longsor perlu dicarikan solusi, termasuk melalui pembangunan shortcut dan jembatan,” tegasnya.
Terkait penanganan tragedi Pelaga Eco Park, Lanang Umbara menekankan bahwa aspek kemanusiaan harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Menurutnya, meskipun kawasan glamping tersebut merupakan usaha milik swasta, pemerintah dan seluruh pihak terkait tetap memiliki tanggung jawab untuk memberikan perhatian serta pendampingan terbaik kepada para korban dan keluarga terdampak.
“Walaupun ini bukan masyarakat kita sendiri, tetap akan kita lakukan upaya terbaik untuk menemukan korban, bagaimanapun keadaannya. Kemanusiaan harus kita kedepankan,” katanya.
Selain penanganan korban, ia juga mendorong evaluasi terhadap pengelolaan destinasi wisata, terutama usaha pariwisata yang beroperasi di kawasan dengan kondisi geografis rawan bencana.
Lanang Umbara menyatakan akan mendorong koordinasi dengan pengelola Pelaga Eco Park maupun pengelola destinasi wisata lainnya di Badung dan Bali. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan sistem keselamatan pengunjung, langkah mitigasi, pemantauan kondisi alam, hingga prosedur evakuasi benar-benar berjalan optimal.
“Kita akan melakukan pendampingan dan mencari solusi terbaik agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” pungkasnya.
Tragedi Pelaga Eco Park menjadi pengingat bahwa daya tarik wisata alam Bali yang menawarkan panorama perbukitan dan suasana terbuka juga menyimpan risiko bencana yang tidak boleh diabaikan. Di tengah pesatnya pengembangan pariwisata, keselamatan manusia harus menjadi pertimbangan utama.
Pemetaan kawasan rawan longsor, kajian kelayakan lokasi usaha wisata, kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem, serta evaluasi berkala terhadap standar keselamatan destinasi menjadi kebutuhan mendesak. Sebab, pariwisata tidak cukup hanya menawarkan keindahan alam dan kenyamanan pengunjung, tetapi juga harus mampu menjamin keselamatan setiap orang yang berada di dalamnya. (red)














