BULELENG (terasbalinews.com) – Upaya menjaga keberlanjutan seni tradisi Bali kembali dilakukan Pemerintah Kabupaten Buleleng melalui kompetisi yang menyasar generasi muda. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Buleleng menggelar Lomba Berbasis Tradisi dan Budaya Masyarakat Bali di Wantilan Sasana Budaya dan lingkungan Museum Gedong Kertya, Rabu (16/8).
Kegiatan tersebut mempertemukan pemuda-pemudi dari sembilan kecamatan di Kabupaten Buleleng. Tahun ini, penyelenggara memilih format yang lebih sederhana dengan hanya mempertandingkan dua kategori, yakni pembuatan wayang dan prasi.
Kepala Disbudpar Buleleng, I Nyoman Wisandika, mengatakan penyederhanaan kategori dilakukan dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya yang menghadirkan lebih banyak jenis perlombaan.
“Lebih sederhana ya, kalau kemarin tahun lalu kita mungkin ada empat lomba, lima lomba. Nah sekarang ada dua lomba yaitu membuat wayang dan prasi,” ujar Wisandika di lokasi acara.
Untuk lomba pembuatan wayang, peserta mendapatkan tantangan membuat tokoh Sahadewa. Menurut Wisandika, pemilihan tokoh tersebut sekaligus menjadi bagian terakhir dari rangkaian tema pewayangan yang telah diberikan dalam beberapa tahun penyelenggaraan sebelumnya.
“Jadi wayang ini sebenarnya ini episode terakhir ini. Karena kemarin kan Yudhistira sudah, Bima sudah, Arjuna sudah, Nakula sudah, sekarang Sahadevanya. Jadi ini episode terakhir dari membuat wayang,” tambahnya.
Sementara kategori prasi mengangkat tema Suta Soma. Prasi merupakan seni menulis sekaligus menggambar cerita pada media daun lontar yang menjadi bagian dari warisan budaya Bali.
Para peserta diberikan waktu lima jam untuk menyelesaikan karya masing-masing. Setelah proses pengerjaan selesai, pemenang ditargetkan diumumkan pada sore hari.
Wisandika mengatakan tantangan terbesar dalam pelestarian kedua seni tersebut berada pada aspek regenerasi. Minat anak muda untuk menekuni pembuatan wayang maupun prasi dinilai masih terbatas.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Disbudpar Buleleng terus menggunakan kegiatan kompetisi sebagai bagian dari upaya perlindungan dan pelestarian budaya.
“Salah satunya seperti yang disampaikan, itu memang regenerasi. Terutama prasi itu kan cerita bergambar, cerita di atas lontar, itu memang agak susah. Termasuk wayang,” ungkapnya.
Kompetisi ini menyasar peserta berusia 15 hingga 25 tahun. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan pelajar sekolah menengah.
Selain menjadi ruang untuk berkompetisi, Disbudpar Buleleng berharap kegiatan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi pembinaan seniman muda secara berkelanjutan.
Pembinaan diharapkan tidak hanya berlangsung saat lomba, tetapi dapat diteruskan di masing-masing kecamatan. Dengan begitu, kemampuan generasi muda dalam membuat wayang dan prasi dapat terus berkembang.
“Harapan kita seperti itu. Karena kita tahu generasi muda itu agak sedikit sekali peminatnya untuk membuat wayang, prasi. Oleh karena itulah sebagai instansi yang memang membawahi untuk terus melakukan perlindungan dan pelestarian,” pungkas Wisandika. *ndr














