DENPASAR (terasbalinews.com). Suasana Sabtu sore (23/8/2025) di Denpasar terasa berbeda. Di sebuah ruangan sederhana, tawa dan lantunan lagu lawas terdengar riuh, memecah kesunyian yang biasanya menjadi teman setia para lansia. Mereka menepuk tangan, ikut bernyanyi, bahkan sesekali terhanyut dalam nostalgia. Di tengah lingkaran itu, berdiri komunitas yang menamai diri mereka Alunan Symphoni (Alus).
Bagi komunitas yang beranggotakan 26 orang ini, musik bukan sekadar hiburan. Musik adalah jembatan untuk tetap merasa hidup, sehat, dan produktif, sekaligus cara untuk berbagi kasih.
“Kami senang bisa berbagi tali kasih, apalagi masih dalam suasana kemerdekaan,” ujar Tutik Kusuma Wardhani, anggota DPR RI Komisi IX yang juga pembina komunitas ini.
Hari itu, sekitar 15 lansia hadir. Mereka tak hanya bernyanyi bersama, tapi juga pulang membawa bantuan sederhana. Namun lebih dari itu, yang mereka bawa adalah rasa dihargai—sebuah energi yang kadang sulit ditemukan di usia senja.
Ketua Alus, Inteni Suwitari, menyebut kegiatan ini lahir dari rasa syukur.
“Kami pensiunan masih diberikan kesehatan, masih bisa tertawa dan bernyanyi. Maka sudah seharusnya kami berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan,” katanya.
Sejak berdiri, Alus memang tak hanya sibuk menghibur diri. Mereka kerap menyambangi panti asuhan, panti jompo, hingga melakukan tirta yatra bersama. Sumber dana sederhana, sebagian dari kantong pribadi, sebagian lagi dari donatur. Namun semangat memberi jauh lebih besar dari jumlah nominal yang terkumpul.
Momen itu menjadi lebih haru ketika Ketut Warniliati, perwakilan PKK Desa Dangin Puri Kelod, menitikkan air mata.
“Tidak semua orang yang mampu mau berbagi seperti ini. Bagi warga kami, terutama lansia dan janda, ini adalah kejutan sekaligus kebahagiaan,” ucapnya lirih.
Tawa, nyanyian, dan pelukan hangat sore itu seakan membuktikan bahwa usia tak pernah menjadi alasan untuk berhenti memberi. Justru, dari para pensiunan inilah kita belajar: kebahagiaan sejati tak lahir dari apa yang kita simpan, melainkan dari apa yang kita bagikan.
Alunan Symphoni, komunitas kecil ini menyalakan semangat bahwa masa tua bukan berarti berhenti berkarya. Dengan suara yang tak lagi sekuat dulu, mereka justru membuat harmoni yang jauh lebih bermakna—harmoni kepedulian. (lia)















