BULELENG (terasbalinews.com) – Perjuangan Made Dea Vio Lantini, gadis asal pesisir Pantai Penimbangan, Buleleng, menyentuh hati banyak orang. Meski berasal dari keluarga nelayan dengan keterbatasan ekonomi, Dea mampu menembus Fakultas Teknologi Industri di Institut Teknologi Bandung (ITB), salah satu kampus terbaik di Indonesia.
Sayangnya, di tengah kabar membanggakan itu, Dea dan keluarganya justru menghadapi kenyataan pahit. Rumah mereka yang berdiri di tepi pantai terancam digusur karena menempati lahan milik orang lain. Bahkan sempat muncul dugaan bahwa penggusuran dilakukan oleh Pemkab Buleleng melalui Satpol PP, padahal hal itu dibantah langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Buleleng, Gede Supriatna.
“Banyak yang mengira penggusuran dilakukan oleh Pemkab lewat Satpol PP, padahal bukan. Ini murni persoalan hukum antara warga yang menempati tanah dengan pemilik lahan,” tegas Supriatna, saat menerima kunjungan ayah Dea, Wayan Suweca, di Kantor DPC PDI Perjuangan, Kamis (17/7).
Melihat perjuangan Wayan Suweca yang tetap teguh menyekolahkan putrinya di tengah keterbatasan, Supriatna mengaku terenyuh. “Beliau bilang, kerjanya sebagai nelayan. Putrinya keterima di ITB, tentu butuh biaya besar. Maka kami dari PDI Perjuangan Buleleng merasa tergerak untuk membantu,” ujarnya.
Bentuk dukungan itu diwujudkan melalui urunan para kader PDI Perjuangan Buleleng. Bantuan akan diberikan setiap bulan sebagai uang saku selama Dea menempuh pendidikan di Bandung. Harapannya, Dea bisa fokus belajar dan meraih cita-citanya tanpa harus terbebani masalah ekonomi.
“Ini bentuk kepedulian kami yang punya semangat tinggi dalam pendidikan. Kami akan bantu setiap bulan, sebagai bekal selama Dea kuliah di ITB,” tutup Politisi asal Desa Tejakula tersebut.











