BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

BKKBN Bali Puji Inovasi “Genting” Buleleng, Dorong Kolaborasi Tangani Stunting Secara Gotong Royong

whatsapp image 2025 10 07 at 15.30.51
Suasana kegiatan Monitoring dan Evaluasi Program "Genting" yang digelar oleh DP2KBP3A Kabupaten Buleleng bersama BKKBN Perwakilan Provinsi Bali di Aula DP2KBP3A Buleleng, Selasa (7/10). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Program Genting (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng mendapat apresiasi tinggi dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Provinsi Bali. Program ini dinilai sebagai langkah nyata dalam mempercepat penurunan angka stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi masyarakat.

Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Genting BKKBN Bali, Dewa Nyoman Dalem, saat Monitoring dan Evaluasi Program Genting di Aula DP2KBP3A Buleleng, Selasa (7/10).

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Buleleng, terutama tim pengendali Genting. Memang masih kecil, tapi langkah ini sudah sangat baik. Harapannya, koordinasi bisa lebih kuat melalui pendekatan pentahelix — melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat,” ujar Dewa.

Menurutnya, program Genting merupakan salah satu “quick win” nasional yang mengedepankan peran masyarakat dan lembaga nonpemerintah sebagai orangtua asuh bagi keluarga berisiko stunting (KRS).

Sejak diluncurkan awal 2025, Pemkab Buleleng telah berhasil menggandeng 21 donatur atau orangtua asuh yang membantu keluarga berisiko stunting dengan tingkat intervensi mencapai 4,3 persen.

Dewa menjelaskan, keluarga berisiko stunting meliputi ibu hamil, ibu menyusui, serta ibu dengan anak di bawah dua tahun (baduta). Pada masa seribu hari pertama kehidupan (HPK), intervensi gizi dan edukasi menjadi faktor penentu tumbuh kembang anak.

“Stunting bukan hanya soal kekurangan gizi. Ada faktor lain seperti lingkungan yang tidak sehat, sanitasi buruk, dan pola asuh yang kurang tepat. Karena itu edukasi menjadi kunci utama,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun angka stunting di Bali termasuk terendah secara nasional, langkah pencegahan harus terus digencarkan agar tidak terjadi lonjakan kasus di masa depan.

Sementara itu, Sekretaris DP2KBP3A Buleleng, Nyoman Suyasa, menjelaskan bahwa pelaksanaan Genting di Buleleng mengedepankan empat dimensi utama, yakni bantuan nutrisi, perbaikan sanitasi, penyediaan air bersih, dan edukasi berkelanjutan.

“Tidak semua bantuan harus berupa materi. Edukasi tentang pola asuh, pola makan, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga juga bagian dari intervensi Genting,” ujar Suyasa.

Ia menambahkan, hingga kini tercatat 81 orangtua asuh telah bergabung dalam program tersebut, dengan 21 di antaranya memberikan bantuan langsung dan sisanya fokus pada pendampingan edukatif.

Namun demikian, jumlah itu masih jauh dari cukup. Berdasarkan data terakhir, Buleleng memiliki lebih dari 17 ribu keluarga berisiko stunting, dengan sekitar 900 keluarga telah teridentifikasi mengalami stunting.

“Artinya, kita masih butuh banyak pihak untuk ikut menjadi orangtua asuh. Stunting tidak bisa ditangani hanya oleh pemerintah. Diperlukan kolaborasi lintas sektor dan semangat gotong royong bersama masyarakat,” tutup Suyasa. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *