BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Dari PIB College, Bali Siap Menjadi Pusat Pengembangan AI Regional

bali ai1
(Ki-Ka): Dr. Idha Kristianaa, S.Kom., MMSI (Founder & CEO, V-Teki), Prof. Dr. Ir. Meyliana, S.Kom., MM, IPU, CDMS, CBDMP, CMC (Professor of Information System BINUS University), Dr. Paulus Herry Arianto, M.A., CBC (Deputy Director of PIB College), Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, M.S., M.M., M.Mis., M.H., D.Th., Ph.D., D.Ag. (Director PIB College), Hendy Risdianto Wijaya, S.T., M.T., Ph.D. (Chairman of Indonesia AI Society), Dr. Ir. Indrajani Sutedja, S.Kom., M.M. (Director of Talent, Indonesian AI Society), Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M. Sc. (Director of Partnership & Event PIB College) dan Andy Febrico Bintoro, S.Kom., BCL, MBA (CTO & Co-Founder Maxy Academy). (foto/red)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

TABANAN (terasbalinews.com). Bali kembali menegaskan posisinya sebagai pusat inovasi dan kolaborasi global melalui penyelenggaraan “Bali AI Summit 2026” di Politeknik International Bali (PIB) College, Kamis (9/4/2026). Forum ini menjadi langkah strategis untuk mendorong pengembangan ekonomi budaya dan ekonomi digital yang berkelanjutan melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Ketua Indonesia AI Society, Hendy Risdianto Wijaya, menegaskan bahwa Bali dipilih sebagai tuan rumah karena memiliki potensi besar dalam mengintegrasikan teknologi dengan budaya dan sektor ekonomi kreatif.

“Bali AI Summit ini menjadi pertemuan penting untuk menghasilkan sesuatu yang benar-benar dapat diimplementasikan. Kami mengundang banyak praktisi agar diskusi tidak berhenti pada teori, tetapi menghasilkan praktik nyata yang bisa diterapkan di industri dan masyarakat,” ujarnya.

Mengusung tema “AI for Sustainable Cultural & Digital Economy”, summit yang berlangsung pada 9–10 April 2026 secara hybrid ini mempertemukan akademisi, praktisi industri, pemerintah, dan inovator teknologi untuk membahas peran AI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital sekaligus menjaga warisan budaya lokal.

Menurut Hendy, perkembangan AI tidak bisa dihindari sehingga literasi menjadi kunci utama. Ia menekankan bahwa masyarakat harus memahami teknologi AI agar tidak menghasilkan informasi atau produk yang keliru.

“Implementasi AI harus berjalan beriringan dengan literasi. Bukan hanya soal apa yang bisa dibuat oleh AI, tetapi apa yang dipahami oleh penggunanya. Literasi ini penting agar kita bisa menilai apakah hasil AI itu benar atau tidak,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya transparansi dalam penggunaan AI, terutama dalam dunia akademik dan publikasi ilmiah. Penggunaan AI diperbolehkan, namun harus disertai dengan penjelasan proses dan sumber yang digunakan.

Sementara itu, Deputy Director PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, menilai bahwa AI merupakan teknologi co-creation yang berfungsi membantu manusia, bukan menggantikan peran manusia dalam dunia kerja dan ekonomi.

“AI itu bukan menggantikan manusia, tetapi membantu pekerjaan manusia. Konsepnya adalah co-creation, kolaborasi antara manusia dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan inovasi,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penerapan AI di PIB College juga diarahkan pada sektor ekonomi digital berbasis pariwisata, termasuk hospitality dan gastronomi. Pemanfaatan AI di bidang ini diharapkan mampu menciptakan inovasi baru dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif.

“Di jurusan bisnis digital, kami mengintegrasikan AI dengan tourism, hospitality, dan gastronomi. AI bisa membantu menciptakan resep, sistem pelayanan, hingga analisis kebutuhan wisatawan secara lebih akurat,” ujarnya.

bali ai2
Penandatanganan kerja sama dengan berbagai pihak. (foto/red)

Dalam perspektif ekonomi, para pembicara juga menyoroti bahwa AI kini mulai dipandang sebagai aktor semu dalam ekonomi atau “quasi economic actor”. Namun secara hukum, AI belum bisa dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab karena belum memiliki kesadaran atau tanggung jawab hukum.

Fenomena ini dikenal sebagai “black box syndrome”, yaitu kondisi di mana pengguna hanya mengetahui input dan output AI tanpa memahami proses yang terjadi di dalamnya. Karena itu, literasi dan transparansi tetap menjadi fondasi utama dalam pengembangan AI.

Direktur PIB College, Prof. Anastasia Sulistyawati, menegaskan bahwa tantangan terbesar dalam pengembangan AI adalah membangun kesadaran dan kepercayaan masyarakat terhadap teknologi.

“Banyak orang masih takut digantikan oleh AI. Padahal, jika literasi dan pemahaman dibangun dengan baik, AI justru bisa membuka peluang baru, termasuk bagi UMKM dan generasi muda,” jelasnya.

Ia mencontohkan bahwa AI mampu membuka peluang bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang untuk berkarya di industri digital, bahkan menciptakan produk teknologi seperti game dan aplikasi dalam waktu singkat.

Melalui Bali AI Summit 2026, Indonesia AI Society bersama PIB College menargetkan Bali menjadi “regional AI hub” yang mampu mendorong investasi, riset, serta pengembangan talenta digital di Indonesia.

Forum ini menghadirkan berbagai pembicara dari akademisi, industri, dan pemerintah, termasuk pakar dari universitas ternama, perusahaan teknologi, hingga peneliti internasional yang membahas implementasi AI di berbagai sektor.

Acara ini terbuka bagi mahasiswa, profesional, pelaku usaha, dan pemerhati teknologi yang ingin terlibat dalam transformasi digital masa depan.

Kegiatan ini juga diselingi penandatanganan MoU berbagai pihak. Dengan kolaborasi lintas sektor yang kuat, Bali AI Summit 2026 diharapkan menjadi momentum penting dalam mempercepat integrasi teknologi AI dengan ekonomi budaya dan digital, sekaligus memperkuat posisi Bali sebagai pusat inovasi teknologi di kawasan regional. (yak)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *