TABANAN (terasbalinews.com). Politeknik Internasional Bali (PIB College) resmi membuka program “Summer Course 2026” dengan mengusung konsep pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning).
Program ini diawali dengan kedatangan 10 mahasiswa internasional sekaligus penandatanganan empat kerja sama strategis dengan sejumlah institusi pendidikan dan organisasi profesional, Senin (29/6/2026).
Kegiatan pembukaan berlangsung di kawasan “BITDeC ONE, PIB College Bali, Tabanan”, yang menjadi pusat aktivitas akademik dan kolaborasi internasional kampus tersebut. Momentum ini sekaligus menandai dimulainya rangkaian pengajaran dalam program musim panas yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa lokal dan internasional dalam satu ruang pembelajaran.
Dalam kesempatan tersebut, PIB College menandatangani tiga nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan Invendo DPD Bali, Institut Teknologi Kesehatan Malang (ITKM) Widya Cipta Husada, serta Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Selain itu, PIB College juga menjalin kerja sama melalui nota kesepakatan (Memorandum of Agreement/MoA) dengan Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar. Kolaborasi tersebut difokuskan pada penyediaan tenaga pengajar atau “lecture” yang akan mengisi sejumlah mata kuliah dalam program “short course” selama Summer Course berlangsung.
Direktur Partnership & Event PIB College, Made Herry Erika Sedana, M.Tr.Par., M.Sc., mengatakan Summer Course 2026 dirancang bukan hanya sebagai program akademik, tetapi juga sebagai wadah bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan sosial, budaya, serta persoalan nyata di masyarakat.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga praktik lapangan. Mereka harus turun langsung, memahami realitas, politik, dan budaya lokal di Bali. Output akhirnya harus berupa ide yang berguna bagi diri sendiri sekaligus memberikan dampak bagi komunitas,” ujar Erika.
Menurut dia, pendekatan pembelajaran dalam program ini menggunakan sistem “ability project” yang menempatkan mahasiswa sebagai pelaku utama dalam proses belajar. Setiap peserta diwajibkan menyelesaikan proyek aplikatif yang memberikan kontribusi kepada komunitas sebagai salah satu syarat kelulusan.
Salah satu contoh penerapan konsep tersebut adalah ketika mahasiswa mengikuti pembelajaran mengenai pengobatan tradisional Bali. Tidak hanya mempelajari teori dan praktik, mahasiswa juga diarahkan untuk memberikan kontribusi nyata kepada komunitas yang menjadi sumber pembelajaran.
“Jadi mahasiswa tidak hanya datang, belajar, lalu pulang. Mereka harus meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat,” jelas Erika.
Untuk mendukung pengalaman belajar yang lebih mendalam, PIB College merancang komposisi kurikulum dengan porsi 70 persen praktik dan kunjungan lapangan, sementara 30 persen lainnya berupa pembelajaran teori di ruang kelas.
Model tersebut diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih komprehensif karena mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana ilmu yang dipelajari diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Pada Summer Course 2026, PIB College menyediakan 14 pilihan program dengan durasi yang fleksibel, mulai dari dua minggu, empat minggu, hingga satu semester atau 16 minggu. Pendaftaran dilakukan secara daring dan terbuka bagi mahasiswa dari berbagai negara.
Erika menjelaskan, program Summer Course akan dibuka setiap bulan dengan menyesuaikan kapasitas laboratorium, kebutuhan mitra, serta ketersediaan program pembelajaran.
Menariknya, PIB College juga menggabungkan mahasiswa internasional dan mahasiswa lokal dalam satu kelas. Strategi ini menjadi bagian dari upaya menciptakan ruang pertukaran budaya tanpa harus selalu melakukan mobilitas ke luar negeri.
“Kalau mahasiswa Bali belum bisa pergi ke luar negeri, kita bawa dunia ke Bali. Saling belajar itu yang paling penting,” kata Erika.
Melalui Summer Course 2026, PIB College berharap dapat memperkuat posisi Bali sebagai destinasi pendidikan internasional, sekaligus menghadirkan model pembelajaran yang menghubungkan kampus, industri, dan komunitas secara langsung. (yak)















