BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Ditengah Keterbatasan Dana, Pura Ulun Danu Bulian Gelar Piodalan di Purnama Kedasa

ulun
Jro Sumadiana, Pengempon Pura Ulun Danu Bulian Desa Pancasari Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Pura Ulun Danu Bulian Desa Pancasari Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng, menggelar piodalan Purnama Kedasa pada Sabtu (12/4/2025). Selaku pengempon ayah adalah Banjar Sari Kelod, Desa Pancasari. Hanya saja, setiap kali dilaksanakan upacara sering terbentur persoalan dana. Hal itu menimbulkan pertanyaan status Pura Ulun Danu Bulian sebagai bagian dari Ulu Ning Buleleng.

Dalam penjelasannya disela-sela pelaksanaan piodalan, Jro Sumadiana, Pengempon Pura Ulun Danu Bulian mengatakan, setiap kali digelar piodalan di pura tersebut, persoalan yang sering dihadapi adalah soal pendanaan. Krame sering kebingungan terkait pendanaan.

“Soal pelaksanaan piodalan seharusnya dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah Kabupaten Buleleng berkoordinasi dengan subak-subak dari dua kecamatan selaku pengempon brokat Ulu Ning Buleleng sampai saat ini belum dikondisikan maksimal,” ucap Jro Sumadiana.

Seperti pada upacara piodalan yang digelar tersebut, Jro Sumadiana mengeluhkan belum adanya kontribusi dana dari subak-subak untuk mendukung upacara tersebut. Bahkan, kata dia, mewakili desa pernah berkoordinasi dengan Bupati Buleleng untuk membicarakan soal pendanaan upacara piodalan. Namun hasilnya nihil.

“Tahun lalu ada dana sebesar Rp 33 juta dan sudah diusulkan kebagian Kesra  agar anggaran itu dinaikkan sesuai proposal mengingat perkembangan zaman dimana otomatis harga untuk kepentingan upacara seperti buah-buahan dipastikan naik,” ungkapnya.

Jro Sumadiana menambahkan, sepatutnya setiap tahun pengajuan propsal ada kenaikan permohonan anggaran antara 10 – 15 persen agar pembiayaan upacara piodalan dapat terselenggara dengan sempurna.

“Dana dari kabupaten seperti itu keadaannya. Tahun lalu upacara menghabiskan anggaran Rp 60 juta dan itu desa yang memback up anggarannya. Jika saja subak-subak bisa menyumbang Rp 500 ribu mungkin dana itu bisa tercover. Saya berharap Camat melalui Forkom bisa menjembataninya,” papar Jro Sumadiana.

Selama ini menurutnya, terus dilakukan koordinasi namun buntu karena tidak ada respon dari pihak terkait. Bahkan Jro Bendesa sering mempartanyakan pembiaran posisi Pura Ulun Danu Bulian Desa Pancasari sebagai Ulu Ning Buleleng seperti saat ini.

“Sepertinya diabaikan. Di Bali ada 4 danau dan dua danau yakni Batur dan Bratan pelaksanaan upacaranya wah. Hanya di Danu Buyan dan Tamblingan yang apa adanya. Kalau posisi dua danau ini sebagai Uluning Buleleng mestinya dikondisikan dengan baik, baik oleh sad desa maupun subak-subak,” ujarnya.

Mestinya, lanjut Jro Sumadina, setiap kali digelar upacara piodalan harus ada pakelem kebo, namun karena keterbatasan dana upacara yang dilakukan yang paling alit yakni pakelem bebek.

“Hanya itu (bebek). Bahkan belum lama ini dari PDAM  (Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Hita Buleleng) akan menggelar upacara pakelem kebo, namun karena tidak ada biaya akhirnya rencana itu gagal. Kami berharap kedepan para pengajeg Buleleng bisa mengkondisikan masalah ini dengan baik,” ucapnya. Khan

Respon (1)

  1. Ini pendapat pribadi Nara sumber, kami krame Banjar hanya menjalankan kewajiban sebagai pengempon ayah, perhatian pemerintah kabupaten sudah meningkat dari tahun sebelumnya hanya 30han juta tahun ini menjadi 50han juta, bapak bupati Buleleng bapak dr i Nyoman sutjidra, hadir dan sepakat untuk melakukan konsolidasi untuk melakukan program upakara dan pembangunan di pura ulundanu bersama desa adat pancasari dengan pengempon penyungsung pura Ulun Danu buyan, namun ini butuh proses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *