BULELENG (terasbalinews.com) – Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang mampu membaca aktivitas otak mulai dikembangkan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Riset tersebut diperkenalkan dalam Buleleng Digital Expo (BDE) di RTH Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Rabu (19/8/2026).
Teknologi ini memanfaatkan Electroencephalogram (EEG) untuk menangkap sinyal listrik dari otak melalui perangkat portabel dengan empat channel sensor. Data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan model AI untuk mengidentifikasi kondisi emosional seseorang.
Rama, salah satu pengisi stan Undiksha, menjelaskan sinyal otak tersebut dianalisis berdasarkan pendekatan valence dan arousal. Hasil analisis kemudian dipetakan ke dalam empat kuadran yang menggambarkan kondisi emosi, seperti bahagia, sedih maupun marah.
“Data dari sinyal tersebut kemudian diproses menggunakan model AI untuk mengenali kondisi emosi seseorang,” ujar Rama.
Tak berhenti pada pengenalan emosi, riset tersebut juga diarahkan pada teknologi motor imagery. Sistem ini berupaya membaca pola gelombang otak ketika seseorang membayangkan gerakan tertentu.

Konsep tersebut membuka peluang pengembangan perangkat bantu berbasis perintah otak, termasuk kursi roda yang dapat merespons aktivitas otak bagi penyandang disabilitas dengan keterbatasan gerak.
Meski demikian, teknologi tersebut masih menghadapi tantangan dalam memperoleh akurasi yang konsisten. Gangguan atau noise pada sinyal EEG serta perbedaan karakteristik otak setiap individu menjadi faktor yang harus diperhitungkan dalam pengembangan model AI.
“Kalau kita mengembangkan model AI dari orang A lalu diterapkan kepada orang B, akurasinya belum tentu maksimal,” kata Rama.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi ini ke depan cukup luas. Selain membantu penyandang disabilitas, sistem berbasis EEG dan AI berpotensi digunakan di bidang pendidikan, kesehatan hingga industri untuk membaca tingkat keterlibatan seseorang, kondisi emosional, kelelahan, maupun rasa mengantuk.
Pengembangan riset juga mulai diarahkan melalui kolaborasi internasional. Tim Undiksha tengah membuka kerja sama dengan peneliti di Thailand yang mengembangkan teknologi robotic skeleton untuk membantu manusia dengan keterbatasan mobilitas.
Sementara itu, Undiksha mengambil peran pada pengembangan model AI yang mampu menginterpretasikan sinyal aktivitas otak.
Rama berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai penelitian di lingkungan akademik. Kolaborasi dengan pemerintah, sektor kesehatan, industri, dan berbagai pihak lainnya dinilai penting agar teknologi pembacaan gelombang otak dapat dikembangkan menjadi solusi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat. *ndr














