TABANAN (terasbalinews.com). Perkembangan kecerdasan buatan atau “Artificial Intelligence” (AI) dan perubahan kebutuhan dunia kerja membuat pendidikan vokasi tak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Perguruan tinggi dituntut mampu memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan perkembangan industri yang bergerak semakin cepat.
Persoalan tersebut menjadi sorotan dalam “International Seminar & Partner Engagement” yang digelar Politeknik Internasional Bali (PIB College) di Dr. Frans Auditorium, PIB College, Bali, Rabu (9/9/2026).
Mengangkat tema “Strategi Optimalisasi Sumber Daya di Institusi Pendidikan Vokasi: Implementasi Education 5.0 untuk Menjembatani Kesenjangan Kognitif Digital dan Kesenjangan Kompetensi Industri”, seminar mempertemukan pemerintah, akademisi, dan industri untuk membahas arah transformasi pendidikan vokasi di tengah disrupsi teknologi.
Dua persoalan menjadi perhatian utama, yakni “Digital Cognitive Gap” dan “Industry Competency Gap”. Keduanya menggambarkan tantangan pendidikan vokasi dalam mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memastikan kompetensi lulusan sesuai kebutuhan dunia kerja.
Kepala LLDIKTI Wilayah VIII, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, mengatakan implementasi Education 5.0 membutuhkan optimalisasi sumber daya manusia, kurikulum yang adaptif, kolaborasi lintas sektor, serta evaluasi pendidikan yang berorientasi pada dampak.
Kurikulum pendidikan vokasi, kata dia, perlu diarahkan untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja sekaligus siap berusaha dengan mengacu pada standar kompetensi nasional maupun global.
Perubahan tersebut juga menuntut dosen meningkatkan kemampuan dalam pedagogi daring dan hybrid, teknologi pendidikan, “Learning Management System” (LMS), simulasi, hingga metode pembelajaran interaktif.
Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Sri Suning Kusumawardani, menambahkan perguruan tinggi perlu mengubah orientasi dari sekadar mengejar reputasi akademik menuju relevansi, *employability*, inovasi, dampak, dan keberlanjutan.
Menurutnya, pemanfaatan AI dan transformasi digital harus menjadi bagian dari pengembangan institusi, mulai dari pembelajaran dan riset hingga layanan akademik digital, “smart campus”, tata kelola data, serta keamanan siber.
Dengan demikian, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur melalui indikator akademik, tetapi juga dari kontribusinya terhadap lulusan, masyarakat, industri, perekonomian, kebijakan, dan pembangunan nasional.
Dari sisi industri, VP Human Capital Development & Sustainability InJourney, Robby Saputra, menekankan pentingnya membangun talenta pariwisata yang siap menghadapi masa depan.
Industri pariwisata menghadapi tantangan krisis talenta, terutama pada bidang yang berkaitan dengan teknologi, tuntutan keberlanjutan, serta kebutuhan menciptakan nilai tambah yang berdampak bagi organisasi.
Pengembangan talenta dapat dilakukan melalui pelatihan profesional, “leadership development”, mentoring, sertifikasi, pengalaman global, dan “experiential learning”. Kolaborasi industri dengan perguruan tinggi juga perlu diperluas melalui magang, “guest lecture”, beasiswa, sertifikasi, hingga “joint research”.
Sementara itu, Prof. Benny E. Tjahjono dari Coventry University, Inggris, menegaskan pendidikan vokasi harus membawa dunia kerja sedekat mungkin ke dalam proses pembelajaran.
Model “project-based learning”, magang, “apprenticeship”, dan kewirausahaan dinilai penting agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu menerapkan keterampilan, melakukan “troubleshooting”, dan mengambil keputusan di lingkungan kerja.
Konsep tersebut mulai diterapkan PIB College, khususnya pada pendidikan hospitality. Wakil Direktur PIB College, Dr. Paulus Herry Arianto, menjelaskan kampus mengembangkan *Executive Management Program* (EMP) dengan pendekatan “Industry-Integrated Learning”.
Melalui konsep “Learning, Experiencing, and Managing Hospitality”, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung melalui proyek supervisi dan “management trainee”. Penilaian tidak hanya berdasarkan pengetahuan, tetapi juga tanggung jawab, interaksi profesional, kemampuan memecahkan masalah, dan performa di lingkungan hospitality.
Direktur PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, menegaskan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan menjadi bagian penting dalam membangun pendidikan vokasi yang relevan dengan perkembangan industri.
Seminar tersebut mempertegas bahwa Education 5.0 bukan sekadar memasukkan AI dan teknologi ke ruang kelas. Transformasi membutuhkan dosen yang adaptif, kurikulum yang dinamis, pengalaman belajar yang dekat dengan dunia kerja, serta ukuran keberhasilan yang berorientasi pada dampak.
Bagi pendidikan vokasi, tantangannya kini bukan hanya mencetak lulusan, tetapi memastikan lulusan memiliki kompetensi, pengalaman, kemampuan beradaptasi, dan kepemimpinan untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah. (red)














