BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

“Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”: Kebangkitan Sosial atau Kehilangan Masa Depan Bangsa?

putu rony
Putu Ronny Angga Mahendra, S.Pd., M.Pd - Dosen Prodi PPKn Universitas Dwijendra Denpasar. (foto/ist)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

DENPASAR (terasbalinews.com). Peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2026 dengan tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” sesungguhnya bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Tema ini adalah peringatan keras bagi bangsa Indonesia bahwa ancaman terhadap negara hari ini tidak lagi selalu hadir dalam bentuk agresi fisik, perang terbuka, ataupun penjajahan teritorial. Ancaman terbesar justru tumbuh perlahan di tengah kehidupan sosial masyarakat: melemahnya karakter generasi muda, rusaknya ikatan sosial, dan lunturnya kesadaran kebangsaan.Indonesia sedang menghadapi situasi sosial yang paradoks.

Di satu sisi, bangsa ini mengalami kemajuan teknologi, pertumbuhan akses pendidikan, dan keterbukaan informasi yang luar biasa. Namun di sisi lain, masyarakat perlahan kehilangan ruang-ruang sosial yang dulu menjadi tempat tumbuhnya nilai kebangsaan. Gotong royong berubah menjadi individualisme. Musyawarah digantikan ego sektoral. Kesantunan sosial terkikis oleh budaya digital yang serba cepat dan tanpa kontrol moral.

Fenomena ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Media sosial hari ini lebih sering menjadi ruang pertengkaran dibanding ruang edukasi. Perbedaan pandangan politik, agama, maupun budaya mudah berubah menjadi kebencian terbuka. Generasi muda tumbuh di tengah normalisasi ujaran kasar, perundungan digital, hingga budaya saling menjatuhkan demi popularitas sesaat. Ironisnya, masyarakat mulai menganggap kondisi tersebut sebagai sesuatu yang biasa.

Di titik inilah tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” menemukan relevansinya yang paling mendalam. Sebab menjaga generasi muda tidak cukup hanya menyediakan pendidikan formal, fasilitas teknologi, ataupun pembangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah menjaga ekosistem sosial tempat mereka tumbuh.

Anak-anak dan remaja tidak lahir dengan karakter yang terbentuk sempurna. Mereka dibentuk oleh lingkungan sosialnya. Ketika lingkungan dipenuhi konflik, keteladanan yang buruk, minim empati, dan rendahnya penghormatan terhadap nilai kemanusiaan, maka generasi yang tumbuh pun akan membawa watak sosial yang rapuh. Dan ketika generasi rapuh itu mendominasi masa depan bangsa, maka sesungguhnya negara sedang menuju krisis kedaulatan yang paling berbahaya: krisis moral dan identitas kebangsaan.

Kedaulatan negara selama ini sering dimaknai secara sempit sebagai kekuatan pertahanan, keamanan wilayah, atau stabilitas politik. Padahal, negara yang benar-benar berdaulat adalah negara yang mampu menjaga kualitas manusianya. Sebab sehebat apa pun pembangunan nasional, semuanya akan runtuh apabila generasinya kehilangan integritas, kehilangan rasa tanggung jawab sosial, dan kehilangan kecintaan terhadap bangsanya sendiri.

Krisis sosial masyarakat hari ini tampak nyata dalam berbagai sektor kehidupan. Kekerasan antarpelajar meningkat. Kasus perundungan menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Penyalahgunaan teknologi digital semakin sulit dikendalikan. Banyak generasi muda kehilangan figur keteladanan yang dapat mereka jadikan arah dalam kehidupan. Tidak sedikit pula anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang miskin dialog, miskin perhatian, dan miskin nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih mengkhawatirkan lagi, masyarakat modern mulai mengalami apa yang disebut sebagai social disconnection/ keterputusan sosial. Orang hidup berdekatan tetapi tidak saling mengenal. Tetangga tidak lagi menjadi keluarga sosial. Interaksi digital menggantikan kehangatan komunikasi nyata.

Akibatnya, generasi muda tumbuh dalam kesepian sosial meskipun hidup di tengah keramaian teknologi. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka Indonesia bukan hanya menghadapi ancaman degradasi moral, tetapi juga ancaman disintegrasi sosial. Bangsa yang kehilangan solidaritas sosial akan mudah terpecah oleh isu identitas, provokasi politik, maupun kepentingan kelompok tertentu.

Padahal sejarah kebangkitan nasional Indonesia justru lahir dari kekuatan kesadaran sosial. Tahun 1908 menjadi titik awal kebangkitan karena para pemuda terdidik saat itu memiliki kesadaran kolektif bahwa bangsa ini hanya dapat maju apabila masyarakatnya bersatu. Kebangkitan Nasional bukan sekadar lahirnya organisasi modern, melainkan lahirnya kesadaran bahwa perjuangan harus dilakukan bersama sebagai satu bangsa.

Semangat itu kini terasa semakin jauh dari kehidupan sosial masyarakat. Nasionalisme sering berhenti pada simbol dan seremoni, tetapi lemah dalam praktik sosial sehari-hari. Banyak orang mudah berbicara tentang cinta tanah air, tetapi enggan menjaga persatuan di lingkungan sekitar. Banyak yang bangga menjadi warga Indonesia, tetapi tidak peduli terhadap rusaknya etika sosial dan masa depan generasi muda.

Di sisi lain, masyarakat harus kembali menghidupkan budaya gotong royong sebagai identitas bangsa Indonesia. Budaya saling membantu, menghormati perbedaan, menjaga etika komunikasi, dan memperkuat solidaritas sosial harus menjadi gerakan bersama. Sebab generasi muda belajar bukan hanya dari teori, tetapi dari budaya sosial yang mereka lihat setiap hari.

Momentum Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi titik refleksi bersama bahwa menjaga tunas bangsa adalah menjaga eksistensi Indonesia itu sendiri. Sebab masa depan negara tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun atau seberapa canggih teknologi yang dimiliki, tetapi oleh kualitas generasi yang akan memimpin bangsa ini di masa depan.

Ketika masyarakat mulai abai terhadap pendidikan karakter, kehilangan kepedulian sosial, dan membiarkan generasi muda tumbuh tanpa arah, maka sesungguhnya bangsa sedang perlahan kehilangan pondasi kedaulatannya sendiri. Namun selama masih ada kepedulian, keteladanan, dan semangat menjaga sesama, Indonesia akan tetap memiliki harapan untuk berdiri kokoh menghadapi zaman.

Sebagaimana pesan Bung Karno, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kutipan ini menegaskan bahwa kekuatan terbesar bangsa sesungguhnya bukan terletak pada kekayaan alam ataupun teknologi, melainkan pada kualitas generasi mudanya. Karena itu, menjaga tunas bangsa bukan hanya tanggung jawab negara, melainkan panggilan moral seluruh rakyat Indonesia.

Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat: bangsa yang gagal menjaga generasinya akan kehilangan masa depannya, tetapi bangsa yang mampu merawat tunas mudanya dengan nilai, kepedulian, dan persatuan akan tetap hidup, kuat, dan berdaulat sepanjang zaman. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *