BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Kasus TBC di Buleleng Masih Tinggi, 122 Orang Meninggal dalam Dua Tahun Terakhir

whatsapp image 2026 04 13 at 19.38.22
Kepala Dinas Kesehatan Buleleng dr. Sucipto. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Penyakit Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan serius di Kabupaten Buleleng. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, tercatat sebanyak 1.649 orang berstatus suspek TBC hingga April 2026. Dari jumlah tersebut, 300 orang telah dipastikan positif terinfeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis.

Kepala Dinas Kesehatan Buleleng, dr. Sucipto, mengungkapkan bahwa tingginya angka suspek menunjukkan potensi penularan yang masih luas di masyarakat. Oleh karena itu, upaya penanggulangan terus diperkuat, terutama melalui pelacakan kontak erat untuk mempercepat deteksi dini.

“Tingginya jumlah suspek menunjukkan masih luasnya potensi penularan di masyarakat. Upaya penanggulangan terus diperkuat terutama melalui pelacakan terhadap kontak erat untuk memudahkan deteksi dini,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Dalam kurun waktu 2025 hingga 2026, TBC tercatat telah menyebabkan 122 kasus kematian di Buleleng. Saat ini, sebanyak 303 pasien masih menjalani pengobatan, angka yang cukup tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada tahun 2025, dari total pasien yang menjalani pengobatan, sebanyak 501 orang dinyatakan sembuh setelah menjalani terapi secara lengkap. Namun, terdapat pula 64 kasus yang tidak melanjutkan pengobatan (loss to follow up), 119 pasien meninggal dunia, serta 3 kasus dinyatakan gagal pengobatan.

Memasuki tahun 2026, kembali ditemukan 300 kasus baru TBC dengan 273 pasien masih dalam proses pengobatan. Dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal sebelum sempat menjalani terapi.

dr. Sucipto menjelaskan bahwa sebagian besar kasus TBC terjadi pada kelompok usia produktif, yakni rentang 15 hingga 54 tahun, dengan rata-rata usia pasien sekitar 44,2 tahun. Selain itu, kelompok usia muda, termasuk remaja 10–24 tahun, serta balita di atas usia lima tahun juga termasuk rentan tertular.

“Balita di atas 5 tahun sangat rentan tertular. Kasus juga banyak ditemukan pada kelompok usia muda-remaja antara usia 10-24 tahun dan orang dengan penyakit penyerta,” jelasnya.

Untuk menekan angka penularan, Dinas Kesehatan Buleleng telah melakukan berbagai langkah, mulai dari pengobatan penderita secara intensif, deteksi dini, hingga pendampingan minum obat agar pasien menjalani terapi secara tuntas.

Selain itu, upaya pencegahan juga terus digencarkan melalui edukasi masyarakat, penerapan etika batuk dan bersin, penggunaan masker, serta menjaga kebersihan lingkungan, termasuk memastikan ventilasi rumah yang baik.

“Kami juga melakukan pencegahan bagi orang sehat melalui tracing, terapi pencegahan TBC (TPT), vaksinasi BCG, serta sosialisasi untuk menghapus stigma terhadap penderita,” tandasnya. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *