BULELENG (terasbalinews.com) – Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, mengukuhkan ribuan pengurus partai dari tingkat anak cabang, ranting hingga anak ranting se-Kabupaten Buleleng periode 2025–2030. Kegiatan konsolidasi partai tersebut berlangsung di GOR Bhuwana Patra, Singaraja, Minggu (15/3).
Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 4.571 pengurus partai hingga tingkat dusun resmi dikukuhkan. Acara ini turut dihadiri anggota DPRD Provinsi Bali dari PDI Perjuangan daerah pemilihan Buleleng, jajaran pengurus DPC PDIP Buleleng, anggota DPRD Buleleng Fraksi PDIP, serta para perbekel dan bendesa adat se-Kabupaten Buleleng.
Ketua DPC PDI Perjuangan Buleleng, Gede Supriatna, menjelaskan bahwa pengukuhan ini menjadi tahapan akhir dari proses pembentukan struktur partai yang telah dimulai sejak awal tahun 2026. Proses konsolidasi dimulai dari Musyawarah Anak Cabang pada 4 Januari 2026, kemudian dilanjutkan dengan Musyawarah Ranting dan Anak Ranting pada 24 Januari 2026.
“Kami ingin melaporkan kepada seluruh undangan bahwa struktur PDIP kini telah terbentuk hingga tingkat anak ranting di setiap banjar,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa Kabupaten Buleleng memiliki 148 desa dan kelurahan serta sekitar 550 banjar. Seluruh wilayah tersebut kini telah memiliki kepengurusan partai hingga tingkat paling bawah.
“Dengan terbentuknya kepengurusan ini, kita yakin PDI Perjuangan Buleleng akan tetap solid dan berpihak kepada masyarakat,” jelas Supriatna.
Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, Wayan Koster, dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi atas soliditas kader PDIP di Bali, khususnya di Buleleng. Menurutnya, struktur partai di daerah ini dikenal kompak, guyub, serta diisi kader-kader yang berkualitas.
Ia juga menilai bahwa PDIP Bali menjadi salah satu daerah yang paling cepat menuntaskan konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting dan anak ranting.
“Ini merupakan suatu kepercayaan partai yang harus dimaknai dengan sungguh-sungguh. Kader harus bangga menjadi pengurus dan pemimpin partai sehingga bisa memberikan manfaat bagi bangsa,” tegas Koster.
Koster juga meminta para kader untuk aktif bekerja di wilayah masing-masing dan selalu hadir di tengah masyarakat.
“Kader partai harus selalu berada di tengah masyarakat, menjadi penyalur aspirasi rakyat serta motor penggerak dalam menjalankan agenda pembangunan daerah demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Secara struktur, PDI Perjuangan kini telah memiliki organisasi yang lengkap hingga tingkat dusun di seluruh Bali. Di Kabupaten Buleleng sendiri, jumlah struktur partai dari DPC, PAC, ranting hingga anak ranting mencapai 4.571 orang.
Meski optimistis menghadapi agenda politik ke depan termasuk Pemilu 2029, Koster menegaskan bahwa kader partai tidak boleh hanya berorientasi pada pemilu semata. Ia menekankan pentingnya memahami AD/ART partai, menjalankan ideologi partai, melakukan kaderisasi dan pendidikan politik, menjaga etika politik, serta memperkuat keberpihakan kepada masyarakat kecil atau wong cilik.
“Kader PDIP harus naik kelas dan mampu menunjukkan profesionalisme dalam membangun daerahnya,” kata Koster.
Dalam kesempatan tersebut, Koster juga mengingatkan kembali perjalanan sejarah partai yang merupakan hasil penggabungan beberapa partai pada 10 Januari 1973, yaitu PNI, Murba, IPKI, Parkindo, dan Partai Katolik yang kemudian menjadi PDI. Melalui kongres partai, nama tersebut berubah menjadi PDI Perjuangan dan secara resmi dideklarasikan pada 14 Februari 1999. *ndr















