BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Misteri Kemunculan Puluhan Piton di Sekitar Danau Buyan: Warga Resah, BKSDA Angkat Bicara

Caption foto:Warga Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, menangkap seekor ular piton yang ditemukan di sekitar Danau Buyan. Dalam dua pekan terakhir, tercatat sebanyak 28 ekor piton muncul dan membuat warga resah, Minggu (6/7/2025). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Suasana di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, mendadak mencekam. Selama dua pekan terakhir, warga dikejutkan oleh kemunculan puluhan ular piton di sekitar Danau Buyan. Kemunculan reptil melata ini membuat sebagian besar penduduk merasa cemas, terutama karena jumlahnya yang tidak wajar.

Made Suartana, salah satu warga setempat, mengungkapkan bahwa hingga saat ini sudah 28 ekor ular ditemukan di sekitar ladang, warung, hingga area jaring ikan di danau. Sebagian ular masih hidup, sementara sisanya ditemukan dalam kondisi mati.

“Total yang terlihat sekitar 28 ekor, 12 masih hidup, sisanya mati. Tadi malam saya ketemu dua lagi,” ujar Suartana, Minggu (6/7/2025).

Panjang ular-ular tersebut mencapai hampir dua meter, dan beberapa bahkan dilaporkan memangsa hewan peliharaan warga. Kondisi ini menyebabkan kekhawatiran meluas. Banyak warga menjadi enggan keluar malam atau memancing di danau seperti biasanya.

Kepala Desa Pancasari, I Wayan Komiarsa, turut menyatakan keterkejutannya atas fenomena ini.

“Saya juga kaget, dari dulu di sini belum pernah ada ular piton sebesar itu. Bisa jadi ada yang membuang atau melepas, entah dari hutan atau hasil penangkapan,” katanya.

Meski sejauh ini ular-ular itu belum masuk ke pemukiman, ia menegaskan pihak desa siap berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali jika situasi semakin meresahkan.

Sementara itu, tudingan bahwa ular-ular ini berasal dari aktivitas pelepasliaran satwa oleh BKSDA Bali dibantah tegas oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Sumarsono.

“Itu tidak benar, kami kalau melepas satwa itu di cagar alam tepatnya di Batukau, di kawasan hutan desa Tabanan. Itu perbatasan dengan hutan lindung langsung, tidak berbatasan dengan kebun warga,” ujarnya.

Sumarsono juga menekankan bahwa BKSDA tidak akan pernah melepas satwa berbahaya di kawasan publik, apalagi di area wisata seperti Danau Buyan.

“Kalau itu area publik, kami jual karcis di situ, tidak mungkin kita menakut-nakuti warga di situ,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa populasi ular piton di sekitar Danau Buyan sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun, peningkatan jumlahnya diduga akibat menurunnya jumlah predator alami seperti elang dan burung hantu, serta adanya perubahan fungsi lahan hutan di sekitar kawasan tersebut.

“Jadi dari dulu memang ada, kemudian predator seperti elang tidak ada. Jadi ularnya semakin banyak,” jelasnya.

Menurut Sumarsono, satu-satunya satwa yang pernah dilepas oleh BKSDA di kawasan Danau Buyan adalah burung elang. Saat ini, pihaknya masih menunggu laporan resmi dari desa terkait lokasi penemuan dan identifikasi jenis ular.

“Kita akan datangi, makanya kita perlu data konkret, lokasinya, jenis ularnya apa saja,” pungkasnya. Ndra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *