GIANYAR (terasbalinews.com). Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia sekaligus President The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana, mengenang Srihadi Sudarsono sebagai salah satu maestro seni rupa Indonesia dengan pencapaian dan profesionalitas yang sangat tinggi.
Hal tersebut diungkapkan Supadma Rudana saat berbicara mengenai sosok Srihadi dan kontribusinya terhadap perkembangan seni rupa Indonesia, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, seorang seniman besar tidak hanya diukur dari kualitas karya, tetapi juga dari profesionalitas dalam menjaga konsistensi berkarya sepanjang hidupnya.
“Seniman hebat harus memiliki jiwa profesionalitas yang tinggi, karena ia mengelola dirinya dalam berkarya dan menjaga agar karyanya tetap berada pada kualitas terbaik, tidak naik turun,” ujarnya.
Supadma Rudana mengungkapkan dirinya telah mempromosikan karya Srihadi Sudarsono secara konsisten sejak 2005 melalui berbagai pameran seni, baik pameran tunggal maupun pameran bersama seniman lain dari seluruh Indonesia.
Ia menyebut, meski usia Srihadi saat itu sudah mendekati 90 tahun, semangat berkarya sang maestro tidak pernah surut. Karya-karyanya tetap hadir dan mewarnai berbagai ruang seni di Indonesia maupun luar negeri.
“Beliau adalah seniman terhebat Indonesia pada masanya, dan sampai sekarang karya-karyanya tetap hidup dan memberi warna di berbagai tempat,” katanya.
Supadma Rudana menilai Srihadi Sudarsono meninggalkan pesan penting bagi generasi seniman Indonesia, terutama terkait profesionalitas dan proses berkarya.
Menurutnya, Srihadi selalu menekankan bahwa seniman harus terus menghasilkan karya terbaik serta memahami proses realitas dalam dunia seni, termasuk memilih ruang pamer yang tepat seperti museum dan galeri.
“Pameran tidak boleh sembarangan. Karya harus dipamerkan di tempat yang mulia seperti museum dan galeri, agar kualitas dan martabat karya tetap terjaga,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga dan merawat karya seni agar tetap berada di ruang yang tepat dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Supadma Rudana menegaskan bahwa museum merupakan rumah tertinggi dan rumah abadi bagi para maestro seni Indonesia.
Museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan karya, tetapi juga menjadi ruang peradaban yang menjaga warisan seni agar tetap hidup dan dikenal masyarakat luas.
“Rumah abadi seorang maestro adalah museum. Karya mereka harus dirawat dan ditempatkan di museum, tidak hanya di satu tempat, tetapi di banyak museum di Indonesia bahkan dunia,” tegasnya.
Salah satu momen yang paling berkesan bagi Supadma Rudana adalah ketika ia menerima sebuah karya dari Srihadi Sudarsono pada 4 Desember 2010.
Karya tersebut tidak menggunakan warna cat minyak seperti biasanya, melainkan komposisi hitam putih dengan gradasi abu-abu yang sarat makna. Di dalamnya terdapat doa dari Srihadi dan keluarganya yang menyebut Supadma Rudana sebagai “Putra Nusantara”.
Menariknya, kata “Nusantara” dalam karya tersebut muncul jauh sebelum nama Nusantara ditetapkan sebagai ibu kota negara Indonesia.
Supadma Rudana menilai hal itu menunjukkan kedalaman pemikiran seorang maestro yang mampu membaca perjalanan sejarah dan peradaban.
“Maestro adalah manusia yang memiliki kepekaan rasa dan kedalaman pemikiran luar biasa, bahkan bisa menjangkau ruang sejarah,” ujarnya.
Supadma Rudana berharap semangat profesionalitas dan dedikasi Srihadi Sudarsono dapat menjadi teladan bagi generasi seniman Indonesia.
Menurutnya, maestro seperti Srihadi bukan hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun peradaban seni yang akan diwariskan kepada bangsa.
“Karya maestro adalah warisan peradaban. Tugas kita adalah menjaga, merawat, dan mempromosikannya agar tetap hidup untuk generasi masa depan,” pungkasnya. (yak)















