BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Putu Supadma Rudana Jembatani Kolaborasi Seni dan Diplomasi Budaya Lewat Pameran Retrospektif Kun Adnyana

psr lukisan1
President of The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana. (foto/red)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

DENPASAR (terasbalinews.com). Ubud kembali menegaskan posisinya sebagai pusat peradaban seni dan budaya Indonesia. Melalui kolaborasi strategis antara pemerintah, akademisi, institusi seni, dan komunitas, sebuah gerakan diplomasi budaya terus dibangun untuk memperkuat ekosistem seni rupa nasional.

President of The Rudana Art Institution, Putu Supadma Rudana, tampil sebagai inisiator sekaligus konseptor dalam event “Kirtya Jnana Kawya”, sebuah program kolaboratif yang mensinergikan Kementerian Pariwisata, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, serta The Rudana Art Institution. Kolaborasi ini tidak hanya menghadirkan ruang pamer, tetapi juga menjadi jembatan diplomasi budaya yang memuliakan pencapaian luhur bangsa melalui seni.

The Rudana Art Institution sendiri menaungi sejumlah lembaga seni dan budaya, seperti Museum Rudana, Rudana Fine Art Gallery, Rudana Art Foundation, hingga pusat penelitian dan pengkajian budaya DESTAR. Melalui jaringan ini, Rudana mendorong terciptanya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan ekonomi budaya yang berkelanjutan.

Menurut Putu Supadma Rudana, dalam pejelasannya, Jumat (27/3/2026) di kampus ISI Denpasar, konsep kolaborasi yang dibangun merupakan penjabaran dari pendekatan “Penta Helix”, yakni sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, komunitas, dan media.

Ia menegaskan bahwa pembangunan ekonomi budaya tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan regulasi, pendanaan, serta iklim yang kondusif.

“Peran pemerintah harus nyata, institusi pendidikan harus aktif, dunia usaha perlu terlibat, komunitas harus bergerak, dan media menjadi penguat informasi. Semua harus bersinergi untuk mengawal pembangunan ekonomi budaya yang holistik,” ujarnya.

Pendekatan ini diyakini mampu mengakselerasi, mengeskalasi, sekaligus mengelevasi peran seni dan budaya sebagai fondasi pembangunan bangsa.

Dalam semangat kolaborasi tersebut, The Rudana Art Institution bersama ISI Bali menghadirkan pameran retrospektif perupa dan guru besar seni rupa ISI Bali, Prof. Wayan Kun Adnyana, yang akan digelar pada Juni 2026.

“Pameran ini mengusung tema ‘Parama Paraga’, sekaligus menjadi debut pameran tunggal ke-19 Kun Adnyana yang memaknai Kalangan Widya Mahardika V tahun 2026,” sebut Putu Rudana.

Menurutnya, Kun Adnyana memiliki hubungan panjang dengan Museum Rudana dan Rudana Fine Art Gallery. Sejak masih menjadi siswa Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Batubulan pada 1995–1996, ia telah menjalani program magang di Rudana Fine Art Gallery.

Sejak masa itu, bakat artistiknya telah terlihat menonjol, terutama dalam eksplorasi garis yang kemudian menjadi ciri khas dalam perjalanan seninya.

“Eksplorasi artistika garis tersebut semakin matang saat Kun Adnyana menempuh studi magister di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 2006. Dari sana, lahir berbagai seri karya yang terus berkembang hingga sekarang,” ungkapnya.

Pada seri “Guwung Suwung”, garis tidak lagi hadir melalui tinta china, melainkan melalui goresan dan torehan warna yang ekspresif, spontan, dan penuh energi. Kun Adnyana menyebutnya sebagai bentuk abstrak baru yang menghadirkan ruang sublimatif dalam seni rupa kontemporer.

Sementara pada seri “Panggung Punggung”, garis-garis renik yang rumit berpadu dengan tema sosial, membentuk metafora visual yang kuat dan reflektif terhadap realitas kehidupan.

Kedua seri ini akan menjadi bagian penting dalam pameran tunggal Kun Adnyana di The Rudana Art Museum.

Menariknya, pameran retrospektif ini tidak hanya digelar di Museum Rudana, tetapi juga akan dihadirkan di Institut Seni Indonesia Bali melalui ruang “Nata-Citta Art Space (N-CAS)”.

Konsep ini menjadi simbol kembalinya perjalanan kreatif Kun Adnyana ke “rumah hulu”-nya, yakni kampus tempat ia mengabdikan diri sebagai akademisi dan seniman.

Menurut Putu Supadma Rudana, pemilihan Kun Adnyana sebagai tokoh pameran retrospektif bukan tanpa alasan.

Ia menilai Kun Adnyana merupakan figur akademisi seni yang lengkap, dengan dedikasi kreatif yang konsisten di tengah berbagai amanah publik yang diemban.

Kun Adnyana pernah menjabat sebagai Kepala Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, hingga Rektor Institut Seni Indonesia Denpasar dan ISI Bali.

Meski memegang berbagai tanggung jawab publik, ia tetap produktif berkarya dan terus melahirkan seri seni rupa kontemporer yang kuat secara konseptual maupun artistik.

“Capaian Prof Kun Adnyana menjadi inspirasi bagi mahasiswa dan generasi muda seni rupa Indonesia,” ujar Putu Rudana. Pameran retrospektif ini juga menjadi bagian dari diplomasi budaya yang lebih luas. imbuhnya.

The Rudana Art Institution menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang telah memberikan dukungan terhadap pameran tersebut.

Kolaborasi antara pemerintah, institusi seni, dan akademisi ini diharapkan mampu memperkuat pemajuan seni rupa Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

Lebih dari sekadar pameran seni, kegiatan ini menjadi simbol bahwa seni rupa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk berkembang sebagai bagian dari pembangunan bangsa.

Melalui semangat kolaborasi, sinergi, dan diplomasi budaya, Putu Supadma Rudana berharap ekosistem seni Indonesia terus tumbuh dan menjadi kekuatan strategis dalam membangun peradaban.

“Kerja sama harus terus dijalin untuk pemajuan seni rupa Indonesia dan memuliakan pencapaian budaya bangsa,” tutupnya. (yak)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *