BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Buka Bulfest 2026, Koster Tegaskan Pentingnya Regenerasi Seniman Muda

Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menghadiri pembukaan Bulfest 2026 yang dimeriahkan kolaborasi 150 penari di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Singaraja, Selasa (18/8/2026). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Dentuman seni dan budaya mengawali Buleleng Festival (Bulfest) 2026 di Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja, Selasa malam (18/8/2026). Sebanyak 150 penari tampil dalam pertunjukan kolaboratif yang menjadi bagian utama pembukaan festival.

Bulfest 2026 resmi dibuka Gubernur Bali Wayan Koster bersama Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra. Pertunjukan kolosal tersebut melibatkan tiga kelompok tari, masing-masing 50 penari Wiranjaya di sisi barat, 50 penari Palawakya di sisi utara, dan 50 penari Truna Jaya di sisi timur kawasan.

Kolaborasi ketiganya mengangkat konsep “Sunia Campuhan Parisuda”, yang menggambarkan penyucian dan kejernihan pikiran melalui simbol pertemuan dua aliran air.

Pembukaan festival juga ditandai dengan penembakan meriam ke udara. Sejumlah pejabat turut menyaksikan prosesi tersebut, di antaranya Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, dan Sekda Buleleng Gede Suyasa.

Mengusung tema “Uriping Rasa”, Bulfest berlangsung selama enam hari, 18–23 Agustus 2026. Festival tahun ini tidak hanya menampilkan pertunjukan seni, tetapi juga menggabungkan unsur budaya, UMKM, ekonomi kreatif, teknologi, kuliner, serta ruang diskusi.

Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan tema Uriping Rasa menjadi gambaran bahwa kebudayaan harus dihidupkan melalui rasa, bukan sekadar ditampilkan sebagai tontonan.

“Makna uriping yang berarti hidup dan rasa berarti hredaya/hati menegaskan bahwa budaya bukan sekedar tontonan, melainkan pengalaman batin yang membimbing tindakan kita sesuai dengan dharma,” kata Sutjidra.

Menurutnya, perkembangan zaman tidak seharusnya membuat masyarakat meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi perlu diberi ruang baru agar tetap hidup dan dapat diterima generasi muda.

“Kita ingin menunjukkan bahwa tradisi buan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika zaman berubah,” ujarnya.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan dalam berbagai zona festival. Seni pertunjukan ditempatkan di sejumlah ruang, sementara Gedung Wanita Laksmigraha dan Galeri Singa Ambara Raja menjadi lokasi produk UMKM dan kerajinan. Buleleng Digital Expo digelar di RTH Rumah Jabatan Bupati, sedangkan kuliner dipusatkan di kawasan Jalan Veteran dan sekitarnya.

“Keseluruhan rangkaian ini kita hadirkan sebagai sebuah ekosistem kebudayaan yang tidak hanya berbicara mengenai seni pertunjukan, tetapi juga tentang pengetahuan, kreativitas, ekonomi masyarakat, teknologi dan masa depan Buleleng,” terang Sutjidra.

Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi ikut menjaga sekaligus mengembangkan kebudayaan daerah.

“Teruslah berkarya menjaga tradisi dan melakukan inovasi. Kepada generasi muda kenali, cintai, dan banggalah pada budaya anda. Ketika rasa terhadap budaya tetap hidup, identitas kita terjaga dan budaya menjadi kekuatan pembangunan,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menilai Bulfest memiliki posisi penting dalam menjaga karakter kesenian Buleleng. Menurutnya, kekhasan seni Buleleng yang turut memberi pengaruh terhadap perkembangan kesenian Bali harus terus diwariskan.

“Mari kita teguhkan komitmen untuk melanjutkan gelora kesenian di Bumi Panji Sakti. Mari kita pacu semangat dan kreativitas dan secara konsisten melakukan regenerasi seniman-seniman muda,” kata Koster.

Koster mengapresiasi Pemkab Buleleng yang dinilai konsisten menghadirkan ruang bagi pengembangan seni dan budaya. Ia berharap Bulfest dapat menjadi pemicu kreativitas seniman sekaligus memperkuat regenerasi pelaku seni di Buleleng.

“Semoga kegiatan ini mampu memacu semangat berkesenian, kreativitas dan inovasi bagi para seniman dan insan kreatif lainnya, namun tetap bepegang teguh pada akar kebudayaan Bali sebagaimana yang telah diwariskan oleh leluhur dan lelangit Bali,” tutupnya.

Melalui Bulfest 2026, Pemkab Buleleng ingin menjadikan festival bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang pertemuan antara tradisi, kreativitas, teknologi, dan ekonomi masyarakat dengan tetap berpijak pada identitas budaya Bali. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *