DENPASAR (terasbalinews.com). Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai 5,48 persen pada 2024, OJK turut mendukung pengembangan sektor pertanian. Kredit untuk sektor pertanian mencapai Rp5,97 triliun atau 5,36 persen dari total kredit perbankan.
“Kami juga tengah mengembangkan ekosistem kakao di Jembrana dan Tabanan serta mendorong budidaya pisang Cavendish untuk memenuhi permintaan saat Hari Raya Galungan dan Kuningan,” ujar Kepala OJK Provinsi Bali, Kristrianti Puji Rahayu, dalam rilisnya, Selasa (23/3/2025).
Dengan berbagai langkah strategis ini menurutnya, OJK Bali berkomitmen menjaga stabilitas dan pertumbuhan sektor jasa keuangan demi mendukung perekonomian daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Seperti dikeahui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), serta industri keuangan guna menjaga stabilitas sektor jasa keuangan di wilayahnya. Dengan kebijakan yang tepat serta penguatan manajemen risiko, OJK optimistis sektor keuangan Bali akan berkembang secara berkelanjutan.
Kristrianti Puji Rahayu, mengungkapkan bahwa industri jasa keuangan di Bali menunjukkan kinerja stabil dan pertumbuhan positif hingga Januari 2025. “Stabilitas ini didukung oleh permodalan yang kuat, likuiditas yang memadai, serta profil risiko yang terjaga,” imbuhnya.
Ia menguraikan, total penyaluran kredit di Bali mencapai Rp111,56 triliun, tumbuh 6,34 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kredit investasi menjadi motor utama dengan pertumbuhan 17,19 persen yoy, mencerminkan optimisme terhadap kondisi ekonomi Bali. UMKM mendapat porsi signifikan dalam penyaluran kredit, yakni 52,44 persen dari total kredit, dengan pertumbuhan sebesar 5,38 persen yoy.
“Sektor konsumtif masih mendominasi penyaluran kredit dengan porsi 34,32 persen, diikuti sektor perdagangan besar dan eceran sebesar 28,68 persen. Pertumbuhan tertinggi tercatat di sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum yang meningkat 15,11 persen yoy,” jelas Puji Rahayu.
Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun mencapai Rp191,56 triliun, tumbuh 11,96 persen yoy, didorong oleh peningkatan tabungan sebesar Rp12,03 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat di angka 58,24 persen, menandakan fungsi intermediasi yang sehat. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level 3,14 persen (gross) dan 2,18 persen (net), tetap dalam batas wajar meskipun sedikit meningkat dibandingkan Desember 2024.
Minat masyarakat Bali terhadap pasar modal terus meningkat. Hingga Januari 2025, jumlah investor saham di Bali mencapai 146.093 Single Investor Identification (SID), tumbuh 22,96 persen yoy. Total kepemilikan saham mencapai Rp5,46 triliun, dengan nilai transaksi saham sebesar Rp2,4 triliun, naik 9 persen yoy.
Sementara itu, piutang pembiayaan dari perusahaan pembiayaan mencapai Rp11,79 triliun, tumbuh 7,95 persen yoy, dengan tingkat Non Performing Financing (NPF) sebesar 0,92 persen. Pembiayaan didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran serta aktivitas penyewaan dan sewa guna usaha.
Dalam upaya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, OJK Bali menggelar berbagai program edukasi, baik secara tatap muka, daring, maupun tematik. Hingga Februari 2025, sebanyak 25 kegiatan edukasi telah menjangkau lebih dari 1.787 peserta, sementara edukasi melalui media sosial menyentuh sekitar 37.987 orang.
“Dari sisi perlindungan konsumen, OJK Bali menerima 95 pengaduan terkait sektor jasa keuangan, dengan mayoritas berasal dari sektor perbankan dan fintech lending. Sebanyak 54 pengaduan telah diselesaikan, sementara 41 lainnya masih dalam proses penanganan,” tutupnya. (red)













