DENPASAR (terasbalinews.com). Di pesisir selatan Bali, Desa Adat Serangan dan PT Bali Turtle Island Development (BTID) membuktikan bahwa sampah plastik tak selalu berarti masalah. Lewat kreativitas dan kolaborasi, limbah yang dulu hanya jadi beban lingkungan kini diolah menjadi produk bernilai jual.
Sejak 2014, BTID selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali bekerja sama dengan Angen Bali, sebuah workshop pengolahan plastik binaan PT Nukari Kriya Raya di Desa Serangan. Rata-rata, delapan kilogram sampah plastik masuk setiap hari untuk diolah menjadi peralatan rumah tangga, hiasan interior, hingga karya seni fungsional.
“Kami tidak anti plastik. Kami hadir untuk memberi solusi,” ujar I Gede Agastia, tim produksi Angen Bali, Jumat (15/8/2025).
Awalnya, pengumpulan plastik dilakukan dengan sistem barter dimana masyarakat menukar sampah dengan beras yang disponsori BTID. Kini, sistemnya berkembang, sampah plastik dibeli langsung dari warga.
“Perubahan ini membuat masyarakat semakin termotivasi memilah sampah dari rumah,” jelas I Wayan Darmaja, tim community relations Nukari. Bagi BTID, ini bukan sekadar proyek lingkungan, imbuhnya.
“Kerja sama ini mengubah cara pandang kita terhadap plastik. Kolaborasi adalah kunci menciptakan dampak nyata,” kata Zakki Hakim, Kepala Komunikasi BTID.
Inisiatif ini menjadi contoh nyata ekonomi sirkular yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memberdayakan warga pesisir, memperkuat budaya gotong royong, dan menanamkan kesadaran akan pentingnya harmoni manusia dan alam.
Agastia berharap pesan ini menular lebih luas. “Tolong pilah sampah dengan baik, di rumah maupun saat berwisata. Kalau kita semua bergerak, Bali tetap indah,” tegasnya. (red)















