BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

TPS 3R Anturan Beroperasi, Buleleng Mantap Beralih ke Pengelolaan Sampah Ekonomi Sirkular

whatsapp image 2026 01 13 at 13.05.05
Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna meninjau langsung operasional TPS 3R Rumah Pilah Resik Mesari di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng, usai peresmian, Selasa (13/1/2026). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Kabupaten Buleleng menambah satu langkah penting dalam upaya pembenahan sistem pengelolaan sampah. Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPS) 3R “Rumah Pilah Resik Mesari” yang berlokasi di Desa Anturan, Kecamatan Buleleng, resmi mulai beroperasi pada Selasa (13/1/2026). Peresmian dilakukan langsung oleh Wakil Bupati Buleleng, Gede Supriatna, sebagai bagian dari transformasi pengelolaan sampah berbasis komunitas dan teknologi tepat guna.

TPS 3R ini menjadi yang pertama di tingkat TPS 3R di Buleleng yang dilengkapi mesin pemilah dan pencacah sampah plastik. Fasilitas tersebut diharapkan mampu mendukung peralihan dari sistem pengelolaan sampah konvensional menuju konsep ekonomi sirkular.

Usai peresmian, Wabup Gede Supriatna menyampaikan apresiasinya terhadap hadirnya TPS 3R dengan teknologi modern tersebut. Ia mengakui langkah ini merupakan kemajuan, meskipun dinilai relatif terlambat dibandingkan sejumlah daerah lain yang telah lebih dahulu menerapkan sistem serupa.

“Kita berharap masyarakat Desa Anturan benar-benar memanfaatkan keberadaan TPST ini untuk mengurangi persoalan lingkungan, khususnya sampah,” ujar Supriatna.

Ia menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Buleleng untuk mereplikasi model TPS 3R serupa di wilayah lain. Dengan kapasitas mesin mencapai 3 hingga 5 ton sampah per hari, satu TPS 3R dinilai mampu melayani dua hingga tiga desa sekaligus, sehingga lebih efisien dari sisi anggaran dan pembangunan.

Selain itu, Wabup juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya. “Kami juga bangga karena mesin ini merupakan produk putra daerah Buleleng. Seluruh pembiayaan pembangunan dan pengadaan mesin bersumber dari APBD dengan nilai sekitar Rp800 juta,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUTR Buleleng, Gede Suharjono, yang membacakan laporan kepala dinas, menyebut peresmian TPS 3R ini tidak sekadar menghadirkan infrastruktur baru, tetapi menjadi momentum perubahan pola pikir masyarakat. Ia menegaskan perlunya beralih dari konsep ekonomi linier “ambil-pakai-buang” menuju ekonomi sirkular, di mana sampah dipandang sebagai sumber daya bernilai.

Hingga tahun 2025, Buleleng tercatat memiliki 58 prasarana pengelolaan sampah. Namun, upaya tersebut belum maksimal mengurangi beban sampah ke TPA Bengkala akibat masih bercampurnya sampah dari rumah tangga. Melalui kerja sama dengan PT Rumah Plastik Mandiri, teknologi pemilahan dan pencacahan sampah plastik di TPS 3R Anturan diharapkan mampu menghasilkan bahan bernilai ekonomi, termasuk untuk campuran aspal plastik. Adapun sampah residu ke depan diusulkan dikelola melalui pembangunan RDF Center yang berpotensi menjadi bahan bakar alternatif PLTU Celukan Bawang.

Perbekel Anturan, I Ketut Soka, menjelaskan bahwa pengelolaan TPS 3R akan dijalankan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmas) Rumah Pilah Resik Mesari. Skema pembagian hasil telah ditetapkan, yakni 60 persen untuk pengelola, 20 persen untuk Desa Adat, dan 20 persen untuk Desa.

“Petugas pemilah sampah kami gaji dari dana desa secara bulanan. Sementara pengurus struktural Pokmas tidak digaji, tetapi diberikan modal usaha seperti sabun mandi,” terang Soka. Ia juga memastikan Pokmas akan aktif turun ke masyarakat untuk memberikan edukasi pemilahan sampah dari rumah.

Dengan beroperasinya TPS 3R Rumah Pilah Resik Mesari, Pemerintah Kabupaten Buleleng berharap pengelolaan sampah dapat berjalan lebih mandiri, berkelanjutan, serta mampu menekan ketergantungan pada TPA. Selain itu, sampah yang terkelola dengan baik diharapkan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat dan menjadi contoh bagi wilayah lain di Buleleng. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *