BULELENG (terasbalinews.com) – Manajemen PLTU Celukan Bawang memastikan kondisi mesin pembangkit masih dalam keadaan prima dan andal, meski akan segera menjalani pemeliharaan rutin (overhaul) terjadwal. Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan anggapan bahwa usia mesin menjadi penyebab turunnya keandalan pasokan listrik.
Manajer Teknis PLTU Celukan Bawang, Helmy Rosadi, menegaskan bahwa kegiatan pemeliharaan yang akan dilakukan tidak berkaitan dengan kerusakan maupun penurunan performa akibat usia mesin. Menurutnya, keandalan pembangkit justru terus terjaga karena rutin menjalani uji kapasitas sesuai kontrak dengan PLN.
“Ini tidak ada hubungannya dengan usia mesin. Kami rutin diuji setiap 6 bulan dan hasilnya tetap handal sesuai kontrak. Perawatan ini dilakukan justru untuk menjaga performa tersebut,” tegas Helmy, Selasa (6/1/2026).
Ia menjelaskan, overhaul tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang telah direncanakan sejak jauh hari, bukan tindakan darurat.
“Rencana overhaul ini sudah kami jadwalkan jauh-jauh hari, jadi tidak mendadak. Ini sudah dalam perencanaan tahunan dan memang harus dilaksanakan karena seluruh pembangkit membutuhkan pemeliharaan,” imbuhnya.
Pemeliharaan dijadwalkan berlangsung selama 14 hari, terhitung mulai 9 hingga 22 Januari 2026. Jenis perawatan yang dilakukan adalah Semi Grade C, meliputi pembongkaran sejumlah komponen, penggantian pipa boiler, serta pembersihan peralatan utama.
“PLTU Celukan Bawang memiliki tiga unit pembangkit. Sesuai standar operasional, setiap unit wajib menjalani pemeliharaan dua kali dalam setahun,” jelas Helmy.
Di sisi lain, ia mengakui proses pemeliharaan menjadi tantangan tersendiri di tengah tingginya kebutuhan listrik Bali yang kini mencapai beban puncak sekitar 1.230 MW. PLTU Celukan Bawang, kata dia, tidak diperkenankan melakukan perawatan lebih dari satu unit secara bersamaan.
“Kami tidak diizinkan melakukan pemeliharaan lebih dari satu unit secara bersamaan. Jika ada gangguan tak terencana di unit lain saat satu unit sedang overhaul, itu akan sangat mengganggu sistem kelistrikan Bali,” ungkapnya.
Situasi tersebut diperberat dengan belum adanya tambahan pembangkit baru yang signifikan, sementara permintaan listrik terus meningkat. Selama masa pemeliharaan, suplai daya ke sistem kelistrikan Bali dipastikan berkurang sebesar 125 MW.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan tersebut, penyedia listrik akan mengoptimalkan pembangkit lain, seperti PLTG Gilimanuk dan PLTGU Pemaron.
“Karena kami keluar (sistem) sebesar 125 MW, otomatis kita kehilangan daya sebesar itu. Ini cukup mengganggu stabilitas jika tidak diantisipasi, apalagi teman-teman IPP lain juga mengalami kesulitan jika jadwalnya ditunda terus,” tandas Helmy. *ndr














