DENPASAR (terasbalinews.com). Komitmen untuk memajukan seni dan budaya Nusantara terus ditunjukkan oleh Putu Supadma Rudana. Sosok yang kerap dijuluki “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” oleh sejumlah tokoh ini dikenal sebagai katalisator kolaborasi yang konsisten mendorong kekuatan seni Indonesia menjadi fondasi kemajuan bangsa.
President The Rudana Art Institution tersebut menegaskan bahwa kekayaan seni dan budaya Indonesia merupakan titik awal untuk membangun berbagai sektor, mulai dari industri kreatif, teknologi, hingga produk nasional yang berdaya saing global.
“Sudah saatnya Indonesia tampil menciptakan berbagai produk, baik seni, teknologi, maupun industri seperti elektronik dan otomotif. Semua bisa dimulai dari kehebatan kita dalam mengkaryakan seni dan budaya, karena kita memiliki banyak maestro,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Julukan “Mr. Kolaborator” yang melekat pada Supadma Rudana tidak datang begitu saja. Selama lebih dari 30 tahun, ia aktif mengawal perkembangan seni Nusantara melalui berbagai program diplomasi budaya dan pameran internasional.
Sejak menempuh pendidikan di Amerika Serikat, ia telah menggelar pameran seni Indonesia di sejumlah kota besar seperti Florida, New York, Washington DC, hingga kawasan West Coast. Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni rupa Indonesia ke dunia internasional sekaligus membangun jaringan kolaborasi global.
Langkah tersebut kemudian berlanjut dalam berbagai kegiatan kuratorial dan manajerial sejak tahun 2000 hingga 2011, di mana Supadma Rudana aktif mengonsep pameran besar, mendukung seniman utama, serta mengangkat mereka menjadi maestro melalui pendekatan manajemen seni yang profesional.
Komitmen Supadma Rudana terhadap seni rupa Indonesia terlihat dari sejumlah pameran besar yang pernah digelar di Museum Rudana.
Beberapa di antaranya adalah pameran karya maestro Srihadi Soedarsono, Sunaryo, I Nyoman Gunarsa, dan Made Wianta yang mendapat respons luas dari publik dan memperkuat posisi seni rupa Indonesia di tingkat nasional.
Ia juga menghadirkan pameran bertajuk “Modern Indonesian Masters”, yang memadukan karya maestro dengan seniman potensial masa depan seperti Djirna, Erawan, Budhiana, Darmika, dan Ida Bagus Indra.
Konsep ini menjadi strategi untuk membangun kesinambungan antara generasi senior dan generasi muda dalam dunia seni rupa Indonesia.
Menurut Supadma Rudana, keberlanjutan seni hanya bisa terwujud jika maestro dan seniman muda berjalan bersama dalam satu ekosistem yang kuat.
Langkah terbaru yang dilakukan Supadma Rudana adalah menghadirkan pameran mahakarya maestro I Wayan Bendi dari Batuan, Gianyar.
Salah satu karya yang menjadi sorotan adalah lukisan berukuran besar 3 x 11 meter yang menampilkan kekuatan khas seni lukis Batuan Bali dengan detail yang kompleks dan narasi visual yang kuat.
Pameran ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan seni tradisi Bali kepada publik sekaligus memperkuat posisi maestro lokal di panggung nasional.
Menurutnya, karya-karya seperti ini menunjukkan bahwa seni tradisi tetap relevan dan mampu menjadi inspirasi dalam perkembangan seni kontemporer.
Ke depan, Supadma Rudana berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektor melalui gagasan Kontemporary Nusantara Art dengan pendekatan pentahelix.
Pendekatan ini melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media dalam satu kolaborasi untuk membangun ekosistem seni yang berkelanjutan.
Ia berharap gagasan ini dapat melahirkan event seni berskala besar sebagai persembahan bagi Indonesia, yang direncanakan digelar di Bali dan berbagai daerah lainnya.
“Kolaborasi adalah kunci. Jika semua sektor bersatu, seni dan budaya Nusantara bisa menjadi kekuatan besar untuk kemajuan Indonesia,” ujarnya.
Bagi Supadma Rudana, seni bukan sekadar ekspresi estetika, tetapi juga fondasi peradaban bangsa. Melalui sinergi, kolaborasi, dan diplomasi budaya, ia ingin memastikan bahwa seni Indonesia terus berkembang dan menjadi kekuatan strategis di masa depan.
Dengan rekam jejak panjang sebagai kurator, manajer seni, dan kolaborator lintas sektor, Supadma Rudana kini tidak hanya dikenal sebagai penggerak seni, tetapi juga sebagai figur yang konsisten membangun jembatan antara budaya, industri, dan peradaban bangsa.
“Seni dan budaya Nusantara harus menjadi kebanggaan sekaligus kekuatan untuk membawa Indonesia maju,” tegasnya. (yak)















