BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Digigit Anjing, Bocah 7 Tahun di Seririt Alami Gejala Suspek Rabies

whatsapp image 2026 01 13 at 17.03.09
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr Sucipto. (foto/ndr).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun asal Banjar Kajanan, Desa Bubunan, Kecamatan Seririt, harus mendapat perawatan di RSUD Tangguwisia setelah mengalami sejumlah gejala yang mengarah pada suspek rabies. Sebelumnya, korban berinisial GEW diketahui digigit anjing pada awal Juni 2026.

Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, gigitan terjadi pada betis kaki kiri dan meninggalkan luka berbentuk sayatan. Namun, setelah kejadian, luka hanya dicuci di rumah dan korban tidak dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin antirabies (VAR).

Anjing yang menggigit korban disebut merupakan anjing yang dipelihara oleh keluarga dan juga sempat menggigit adik korban, meski lukanya lebih ringan dan tidak sampai mengeluarkan darah.

Anjing tersebut kemudian dibunuh oleh ayah korban karena dikhawatirkan kembali menyerang orang lain. Hewan penular rabies (HPR) itu telah dipelihara sekitar satu tahun dan biasa dilepasliarkan. Setelah dibunuh, anjing dikuburkan tanpa terlebih dahulu dilaporkan atau diperiksa melalui Puskeswan.

Kondisi korban mulai berubah pada Kamis (6/8/2026). Ia mengalami nyeri pada kaki kiri, demam, penurunan nafsu makan dan berkeringat lebih banyak dari biasanya. Korban sempat dibawa ke bidan dan mendapatkan obat demam serta vitamin.

Namun, kondisi tersebut tidak membaik. Keesokan harinya, Jumat (7/8/2026), keluarga membawa GEW ke RSUD Tangguwisia.

Saat tiba sekitar pukul 11.45 Wita, korban menunjukkan sejumlah gejala yang mengarah pada rabies, seperti takut atau menolak air (hidrofobia), takut terhadap angin atau hembusan AC, gelisah, sensitif terhadap cahaya, serta mengalami hipersalivasi atau produksi air liur berlebihan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, Dr. Sucipto, mengatakan kasus tersebut menjadi perhatian serius, terlebih korban memiliki riwayat gigitan HPR namun tidak mendapatkan penanganan medis segera setelah kejadian.

“Kasus ini menunjukkan pentingnya masyarakat segera melaporkan setiap kejadian gigitan hewan penular rabies dan mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan,” ujar Dr. Sucipto, Minggu (9/8/2026).

Menurutnya, keterlambatan penanganan setelah gigitan HPR dapat meningkatkan risiko, terutama ketika hewan yang menggigit tidak dapat dipantau maupun diperiksa lebih lanjut.

Dinkes Buleleng mencatat hingga 9 Agustus 2026 terdapat 4.927 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR). Sementara kasus rabies pada manusia atau Lyssa sepanjang 2026 tercatat sebanyak tiga kasus.

“Hingga 9 Agustus 2026 terdapat 4.927 kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR). Dari jumlah tersebut, kasus rabies pada manusia atau Lyssa pada 2026 tercatat sebanyak tiga kasus,” imbuhnya.

Tiga kasus tersebut tercatat terjadi pada Maret, Juni dan Agustus 2026. Kasus Maret menimpa anak berusia 9 tahun asal Kecamatan Sawan setelah digigit anjing liar. Sementara kasus Juni dialami anak berusia 13 tahun asal Kecamatan Busungbiu yang memiliki riwayat gigitan anjing peliharaan. Pada kedua kasus tersebut, korban tidak segera melaporkan kejadian gigitan ke fasilitas kesehatan.

Dinkes Buleleng kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele luka akibat gigitan HPR. Pertolongan pertama dilakukan dengan mencuci luka menggunakan sabun dan air mengalir selama 10–15 menit, kemudian segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Layanan vaksin antirabies juga tersedia melalui rabies center di Buleleng. Dinkes mencatat penanganan terhadap kasus gigitan HPR dilakukan sesuai kebijakan penanggulangan rabies di Bali.

“Yang paling penting adalah jangan menunggu munculnya gejala. Begitu terjadi gigitan, segera cuci luka dan datang ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan penanganan,” tandasnya. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *