BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Armada Tua Hambat Layanan Damkar Buleleng, Sutjidra Siapkan Peremajaan Bertahap

Armada Pemadam Kebakaran Kabupaten Buleleng yang Kondisi kendaraan yang mayoritas berusia lebih dari 20 tahun. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Kesiapan Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Buleleng masih dibayangi keterbatasan armada. Usia kendaraan yang mayoritas telah melewati dua dekade membuat mobil pemadam kerap mengalami kendala saat dibutuhkan untuk menangani kebakaran.

Teranyar, satu unit mobil Damkar berkapasitas 5.000 liter tidak lagi dapat dioperasikan setelah mengalami masalah pada as roda. Kendaraan keluaran 2004 tersebut mengalami kerusakan setelah digunakan dalam penanganan kebakaran di Desa Ambengan, Kecamatan Sukasada.

Kondisi itu menambah panjang persoalan sarana dan prasarana Damkar Buleleng. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Buleleng, I Gede Arya Suardana, mengakui kemampuan armada yang tersedia belum mampu menunjang kebutuhan pelayanan secara maksimal.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat. Kalau bicara maksimal, kami belum bisa. Kemampuan kami dari sisi sarana prasarana baru mencapai 30 persen dari total kebutuhan,” ujar Arya, Kamis (17/9/2026).

Menurut Arya, persoalan armada tidak hanya berkaitan dengan kendaraan yang mengalami kerusakan. Dari enam armada utama yang ditempatkan di Pos Seririt, Kubutambahan, dan Pos Induk, dua unit saat ini dalam kondisi rusak. Sementara satu armada tua lainnya sudah tidak digunakan untuk melakukan pemadaman.

Keterbatasan armada tersebut beriringan dengan minimnya jumlah pos pemadam. Saat ini Buleleng hanya memiliki tiga pos Damkar. Padahal, dengan cakupan wilayah yang luas serta garis pantai sepanjang sekitar 157 kilometer, kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10 pos.

Jumlah pos yang terbatas turut memengaruhi kecepatan petugas mencapai lokasi kejadian. Arya mengatakan standar waktu tanggap atau response time maksimal 15 menit akan sulit dicapai apabila lokasi kebakaran berada jauh dari pos terdekat.

“Bayangkan jika ada kejadian di Sumberklampok, butuh berapa jam perjalanan dari Seririt ke sana? Padahal standar response time maksimal 15 menit. Ini sangat tidak ideal,” tegasnya.

Persoalan tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Buleleng. Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mengatakan sebagian besar armada Damkar memang sudah berusia lebih dari 20 tahun. Kondisi kendaraan semakin sulit dipertahankan karena sejumlah suku cadang mulai langka.

Pemkab Buleleng pun menyiapkan langkah peremajaan armada secara bertahap. Pada tahun ini, pemerintah baru dapat mengalokasikan anggaran untuk satu unit armada berukuran kecil.

Sementara pada 2027 mendatang, Sutjidra menargetkan adanya tambahan sedikitnya dua unit armada besar. Penambahan tersebut diharapkan secara bertahap memperkuat kesiapan Damkar dalam menghadapi kejadian kebakaran di wilayah Buleleng.

“Paling tidak kita butuh enam unit baru yang ideal. Untuk tahun 2027, astungkara saya usahakan minimal ada tambahan dua armada lagi,” kata Sutjidra.

Meski sarana masih terbatas, operasional Damkar tetap berjalan selama 24 jam. Sebanyak 123 personel disiagakan melalui pembagian regu dan sistem shift untuk merespons laporan kebakaran maupun keadaan darurat lainnya.

Kondisi armada dan keterbatasan pos tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Damkar Buleleng, terutama ketika potensi kebakaran meningkat pada musim kemarau. Peremajaan kendaraan dan penambahan pos menjadi kebutuhan penting agar pelayanan kepada masyarakat dapat menjangkau wilayah secara lebih cepat. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *