BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Armada Uzur, Damkar Buleleng Akui Pelayanan Belum Maksimal

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Kadis Damkar) Kabupaten Buleleng saat I Gede Arya Suardana, AP, MM. (foto/ndr).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Keterbatasan armada masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Buleleng. Kondisi kendaraan yang sebagian telah berusia puluhan tahun membuat kesiapan operasional tidak sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan pelayanan masyarakat.

Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Buleleng, I Gede Arya Suardana, AP, MM, bahkan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat. Ia mengakui dukungan sarana dan prasarana yang dimiliki saat ini masih jauh dari kondisi ideal.

“Kami memohon maaf kepada masyarakat, tolong bantu kami agar bisa kembali melayani secara optimal. Kalau bicara maksimal, kami belum bisa. Kemampuan kami dari sisi sarana prasarana baru mencapai 30 persen dari total kebutuhan,” ujar Arya Suardana.

Kondisi tersebut kembali terlihat setelah salah satu armada andalan Damkar mengalami kerusakan usai digunakan menangani kebakaran di wilayah Ambengan. Mobil berkapasitas 5.000 liter itu mengalami kerusakan saat melintas di Jalan Sartika Selatan menuju Jalan Dahlia.

Kendaraan keluaran 2004 tersebut mengalami masalah pada bagian as roda. Usianya yang telah mencapai 22 tahun membuat komponen kendaraan semakin rentan, terlebih armada tersebut selama ini cukup sering diforsir untuk menjalankan tugas pemadaman.

“Mobil itu keluaran tahun 2004, usianya sudah 22 tahun. Perawatannya memang rutin, tapi karena as rodanya sudah tua, getas, dan terus diforsir, akhirnya patah. Sekarang armada andalan itu belum bisa digunakan,” ungkapnya.

Tiga Pos untuk Wilayah Buleleng

Persoalan Damkar Buleleng tidak berhenti pada usia kendaraan. Keterbatasan jumlah pos pemadam juga menjadi kendala serius, terutama untuk menjangkau wilayah yang berada jauh dari pos terdekat.

Dengan wilayah daratan yang luas dan garis pantai mencapai 157 kilometer, kebutuhan ideal diperkirakan mencapai 10 pos pemadam. Namun saat ini Buleleng baru memiliki tiga pos, yakni Pos Seririt, Pos Kubutambahan dan Pos Induk.

Arya menilai kondisi tersebut berpengaruh terhadap pencapaian standar waktu tanggap atau response time.

“Pos kita yang paling barat ada di Seririt. Bayangkan jika ada kejadian di Sumberklampok, butuh berapa jam perjalanan dari Seririt ke sana? Padahal standar response time (waktu tanggap) dari diterimanya laporan hingga tiba di lokasi kejadian maksimal adalah 15 menit. Ini sangat tidak ideal,” paparnya.

Dari sisi armada, Buleleng saat ini memiliki enam armada utama. Dua unit ditempatkan di Pos Seririt, dua unit di Pos Kubutambahan dan dua unit lainnya berada di Pos Induk. Kapasitas kendaraan berkisar antara 3.000 hingga 5.000 liter.

Namun tidak seluruh armada dalam kondisi siap operasi. Dua kendaraan, masing-masing jenis Borneo dan Elf, mengalami kerusakan. Sementara satu unit Morita yang sudah berusia tua tidak lagi digunakan untuk pemadaman dan kini dimanfaatkan sebagai sarana edukasi.

Peremajaan Armada Diharapkan Berlanjut

Arya berharap pemerintah daerah dapat melakukan peremajaan armada secara bertahap. Menurutnya, penambahan kendaraan diperlukan agar setiap pos memiliki armada cadangan ketika kendaraan utama mengalami kerusakan.

“Harapan ke depan, tiap tahun minimal ada peremajaan satu unit. Idealnya di setiap pos ada tiga armada yang siap, sehingga jika ada yang rusak, masih ada cadangan yang bisa mem-backup,” harap Arya.

Di tengah keterbatasan armada, Damkar Buleleng tetap menjalankan penanganan kebakaran secara berkoordinasi dengan instansi terkait. Untuk kebakaran permukiman, Damkar menjadi salah satu unsur utama dalam penanganan.

Sementara kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), khususnya yang lokasinya jauh dari permukiman, ditangani secara kolaboratif melalui Satgas Karhutla yang dikoordinatori BPBD. Penanganan tersebut melibatkan TNI, Polri dan Polisi Kehutanan sesuai amanat Inpres Nomor 3 Tahun 2020.

Damkar Buleleng juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak swasta. Salah satunya armada pemadam milik PLTU Celukan Bawang yang dapat dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran di wilayah sekitar operasionalnya.

Personel Siaga 24 Jam

Jika sarana menjadi titik lemah, kondisi berbeda terlihat pada sumber daya manusia. Arya memastikan jumlah personel Damkar Buleleng masih mencukupi untuk menjalankan pelayanan selama 24 jam.

“Kalau untuk personel, kami sangat cukup. Saat ini ada 123 orang personel. Di setiap pos terdapat empat regu yang bertugas dengan sistem shift 12 jam, sehingga operasional siaga 24 jam penuh tetap berjalan dengan baik,” pungkasnya.

Dengan personel yang tetap disiagakan penuh, Damkar Buleleng kini masih menghadapi tantangan utama pada sisi armada dan jangkauan pos. Peremajaan kendaraan serta penambahan pos menjadi kebutuhan yang dinilai penting untuk memperkuat kecepatan respons ketika terjadi kebakaran di wilayah Buleleng. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *