BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Kemarau Panjang Ancam Panen Padi Buleleng, Produksi Diprediksi Turun 30 Persen

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng I Gede Melandrat, S.P. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Musim kemarau panjang mulai menekan sektor pertanian Kabupaten Buleleng. Ketersediaan air yang terus menyusut membuat sejumlah lahan sawah menghadapi ancaman gagal memenuhi pola tanam tiga kali dalam setahun atau Indeks Pertanaman (IP) 3.

Kondisi tersebut dipicu turunnya debit air serta belum optimalnya saluran irigasi tersier. Pemerintah Kabupaten Buleleng bersama Kementerian Pertanian (Kementan) RI kini menggenjot sejumlah intervensi untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.

Kepala Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan, dan Perikanan Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat, mengatakan kondisi kekeringan memberikan tekanan cukup besar terhadap pertanian. Menurutnya, target IP 3 tahun ini berpotensi tidak tercapai apabila ketersediaan air terus menurun.

“Kalau kita berbicara tentang kekeringan, tentu dampaknya luar biasa bagi pertanian. Debit air menurun, ditambah saluran irigasi tersier yang kurang baik. Untuk mewujudkan target IP 3 tahun ini mungkin tidak terpenuhi, namun pemerintah pusat melalui Kementan terus berupaya melakukan perbaikan saluran irigasi tersier,” ujar Melandrat saat dikonfirmasi.

Untuk menjaga pasokan air, Pemkab Buleleng telah menyalurkan 30 unit mesin pompa ke sejumlah lahan yang masuk kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).

Tak hanya mengandalkan pompanisasi, pemerintah juga membangun sumur bor dangkal, terutama untuk wilayah hilir yang kerap mengalami kekurangan air akibat pasokan dari kawasan hulu menurun.

“Kami membangun irigasi tanah dangkal atau sumur bor, khusus di daerah hilir karena biasanya air sudah habis di hulu. Target maksimal kami bangun 40 titik, dan saat ini sudah terbangun 30 titik di kawasan LP2B. Pengerjaannya harus selesai semua pada bulan November ini,” tegas Melandrat.

Persoalan air bukan satu-satunya kendala. Keterbatasan tenaga kerja tanam juga membuat proses budidaya padi berjalan lebih lambat. Dampaknya, pengaturan pembagian air di tingkat subak menjadi kurang optimal.

Untuk mempercepat proses tanam, pemerintah telah menyalurkan sejumlah alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk mesin tanam padi. Penggunaan alat tersebut diharapkan mampu mempercepat sekaligus menyelaraskan waktu tanam petani.

Produksi Padi Terancam Turun

Tekanan kemarau diperkirakan berimbas langsung terhadap hasil panen. Melandrat memperkirakan produksi padi Buleleng dapat mengalami penurunan sekitar 25 hingga 30 persen dari total luas baku sawah yang mencapai sekitar 7.000 hektare.

Mengantisipasi dampak tersebut, Dinas Pertanian juga mendorong petani lebih selektif memilih varietas benih, terutama selama musim tanam kedua yang berlangsung dalam kondisi ketersediaan air terbatas.

Melandrat mengingatkan petani untuk tidak memaksakan penggunaan varietas Inpari pada musim kemarau saat ini. Ia menyarankan varietas yang lebih sesuai dengan kondisi lahan minim air.

“Mestinya di musim tanam kedua ini yang ditanam adalah varietas Ciherang atau Inpago yang memang tahan terhadap kekeringan. Jangan menanam Inpari. Kalau dipaksa menanam Inpari dengan kondisi kurang air, pertumbuhannya tidak akan maksimal, anakannya sedikit, malainya sedikit, dan kualitas gabahnya tidak pulen. Petani akan rugi,” jelasnya.

Pupuk Subsidi Masih Aman

Di tengah tekanan kekeringan, pemerintah memastikan persoalan pasokan pupuk bersubsidi tidak menjadi tambahan beban bagi petani.

Melandrat menyebut ketersediaan pupuk bersubsidi di Buleleng masih aman. Pemantauan dan penyampaian informasi mengenai stok pupuk juga dilakukan secara berkala agar petani dapat mengetahui ketersediaan di lapangan.

“Ketersediaan pupuk aman. Tahun lalu serapan pupuk kita sangat luar biasa dan Buleleng mendapat reward atas hal itu. Saat ini, serapan pupuk paling tinggi ada di daerah Kecamatan Busungbiu dan Sawan. Kami juga rutin membuka informasi ketersediaan pupuk setiap minggu agar petani tidak kesulitan,” pungkas Melandrat.

Dengan pompanisasi, pembangunan sumur bor, percepatan tanam menggunakan alsintan, hingga penyesuaian varietas benih, Pemkab Buleleng berupaya menekan dampak kemarau terhadap sektor pertanian. Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga produksi dan ketersediaan pangan di tengah kondisi air yang semakin terbatas. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *