BULELENG (terasbalinews.com) – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Buleleng mengevaluasi hasil penginputan Indeks Inovasi Daerah (IID) 2026 sekaligus menyusun strategi pengembangan inovasi untuk 2027.
Evaluasi tersebut dipimpin Kepala BRIDA Buleleng, Ketut Suwarmawan, dalam rapat yang berlangsung di Ruang Rapat BRIDA Buleleng, Selasa (22/9/2026).
Suwarmawan menegaskan, pengembangan inovasi di lingkungan pemerintah daerah tidak boleh hanya berorientasi pada peningkatan nilai indeks. Inovasi harus mampu memperbaiki tata kelola pemerintahan, mempermudah pekerjaan aparatur, serta memberikan pelayanan yang lebih mudah bagi masyarakat.
“Rapat hari ini kita melaksanakan evaluasi hasil penginputan Indeks Inovasi Daerah tahun 2026 sekaligus merencanakan strategi pengembangan inovasi tahun 2027,” ujarnya.
Menurutnya, evaluasi dilakukan untuk memastikan seluruh proses penginputan inovasi oleh perangkat daerah berjalan dengan baik. Kelengkapan data dukung juga menjadi perhatian karena berperan dalam proses penilaian IID.
“Setiap perangkat daerah kita dorong untuk mendaftarkan inovasinya dan melengkapi data dukung. Ini penting karena inovasi yang dilakukan harus dapat tergambarkan melalui data dan proses penilaian IID,” ungkapnya.
Nilai Inovasi Buleleng Terus Meningkat
Suwarmawan menyampaikan bahwa nilai IID Kabupaten Buleleng menunjukkan tren peningkatan dalam lima tahun terakhir. Nilai tersebut naik dari 43,64 pada 2021 menjadi 51,78 pada 2022, kemudian 54,30 pada 2023, 60,98 pada 2024, dan mencapai 62,98 pada 2025.
Buleleng sebelumnya sempat masuk kategori sangat inovatif pada 2024. Namun, perubahan rentang penilaian untuk kategori inovatif dan sangat inovatif membuat Buleleng belum kembali masuk kategori tersebut pada 2025.
Saat ini, proses penilaian IID 2026 telah berlanjut di tingkat pemerintah pusat. Karena itu, koordinasi antarperangkat daerah dinilai penting untuk memastikan seluruh inovasi yang telah dijalankan tercatat dan dinilai sesuai ketentuan.
Suwarmawan berharap hasil penilaian IID 2026 dapat membawa Kabupaten Buleleng kembali ke kategori sangat inovatif. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa capaian indeks bukanlah tujuan akhir dari pengembangan inovasi.
“Inovasi bukan hanya untuk mengejar nilai indeks. Yang lebih penting adalah bagaimana perangkat daerah memiliki inovasi dan kreativitas yang dapat memperbaiki tata kelola pemerintahan, memudahkan pekerjaan, dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan,” pungkasnya.
Melalui evaluasi tersebut, BRIDA Buleleng mendorong perangkat daerah untuk terus memperkuat inovasi yang berbasis kebutuhan masyarakat dan memberikan dampak nyata terhadap kualitas pelayanan publik. *ndr














