GIANYAR (terasbalinews.com). Keberadaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) tidak hanya berkaitan dengan aktivitas simpan pinjam. Bagi krama Desa Adat Talepud, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, LPD menjadi salah satu penopang aktivitas ekonomi sekaligus bagian dari kehidupan desa adat.
I Wayan Sastrawan, Minggu (1/11/2026), warga Desa Adat Talepud, menilai kehadiran LPD Talepud telah memberikan manfaat nyata bagi perekonomian masyarakat. Beragam layanan keuangan tersedia bagi krama, mulai dari simpanan, tabungan, deposito hingga pinjaman dan kredit.
Layanan tersebut dimanfaatkan masyarakat untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari membiayai pendidikan, mempersiapkan kebutuhan hari tua, menambah modal usaha, hingga memenuhi kebutuhan pelaksanaan upacara keagamaan Panca Yadnya.
Namun, LPD Talepud tidak berhenti pada layanan konvensional. Mengikuti perkembangan teknologi, lembaga keuangan desa adat ini mulai memperkuat layanan digital agar akses masyarakat terhadap layanan keuangan menjadi lebih mudah dan praktis.
“Salah satunya melalui aplikasi ‘M-Pise LPD Digital Online’. Melalui aplikasi tersebut, nasabah dapat mengecek saldo dan mutasi rekening, melakukan pembayaran Telkom, PLN dan BPJS, membeli token listrik, pulsa seluruh operator hingga voucher data,” jelasnya.
Menurutnya, digitalisasi juga menyentuh aktivitas usaha nasabah. LPD Talepud menyediakan fasilitas pembayaran menggunakan QRIS bagi nasabah yang memiliki usaha. Kehadiran QRIS memberikan alternatif transaksi yang lebih praktis sekaligus membantu pelaku usaha mengikuti perubahan pola pembayaran masyarakat yang semakin digital.
Layanan LPD Talepud juga diperluas melalui kehadiran mesin ATM yang ditempatkan di depan kantor LPD. Fasilitas ini membuat akses terhadap dana tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jam pelayanan kantor.
Nasabah tetap dapat melakukan tarik tunai di luar jam operasional. Fasilitas tersebut juga menjadi pilihan ketika antrean di kantor LPD sedang padat.
Menariknya, ATM LPD Talepud telah mendukung transaksi “cardless”. Nasabah tidak harus membawa kartu ATM untuk melakukan transaksi, melainkan cukup menggunakan aplikasi pada telepon pintar yang telah terintegrasi.
Bagi Sastrawan, inovasi tersebut menunjukkan bahwa LPD mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Layanan yang dahulu identik dengan aktivitas pagi hingga sore kini dapat diperluas melalui teknologi hingga 24 jam.
“Teknologi ini sangat berguna dan memberikan dampak positif bagi kemudahan layanan keuangan krama Desa Adat,” ujarnya.
Menurut dia, perkembangan tersebut sekaligus membuktikan bahwa LPD mampu bersaing dan disandingkan dengan lembaga keuangan lainnya. Meski berbasis desa adat, layanan yang diberikan tidak harus tertinggal dari perkembangan teknologi finansial.
Lebih dari sekadar lembaga keuangan, LPD juga memiliki fungsi sosial dan ekonomi bagi desa adat. Sastrawan mencatat, LPD Talepud setiap tahun memberikan 20 persen keuntungan untuk dana pembangunan dan 5 persen untuk dana sosial desa adat.
Kontribusi tersebut membuat keberadaan LPD tidak hanya dirasakan oleh nasabah, tetapi juga kembali kepada masyarakat dan desa adat.
“Keberadaan LPD Talepud dan sekitar 1.400 lebih LPD di Bali sangat penting sebagai pilar ekonomi desa adat,” katanya.
Menurutnya, penguatan LPD pada akhirnya juga berarti memperkuat desa adat, krama adat, serta keberlangsungan seni dan budaya Bali. Karena itu, eksistensi LPD ke depan membutuhkan dukungan moral dan komitmen bersama dari masyarakat.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, LPD Talepud mencoba menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan identitas lokal. Teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat pelayanan, sementara nilai-nilai desa adat tetap menjadi pijakan.
“Bertindak lokal, berpikir global” Semangat tersebut tercermin dari upaya LPD Talepud mengadopsi teknologi modern sekaligus mempertahankan fungsi sosialnya bagi krama.
Harapannya sederhana: LPD boleh menggunakan teknologi modern, tetapi tetap memiliki karakter dan nilai yang berakar pada kehidupan masyarakat Bali.
“Berharap LPD dapat berteknologi barat, tetapi tetap berjiwa timur,” kata Sastrawan. (red)














