BULELENG (terasbalinews.com) — Pihak keluarga I Putu Gde Pradnya Toli (22) menepis keras anggapan yang menyebut kematian mahasiswa tersebut sebagai aksi bunuh diri. Ayah korban, Made Merdana, menegaskan putranya pulang ke Buleleng dalam keadaan bahagia setelah menyelesaikan skripsi dan tidak memiliki persoalan pribadi maupun finansial.
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan di Universitas Udayana itu sebelumnya ditemukan meninggal di dasar jurang Jembatan Shortcut 7, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kamis (26/2). Sepeda motor miliknya lebih dulu ditemukan terparkir di atas jembatan sebelum jasadnya ditemukan di bawah.
Made Merdana menceritakan, komunikasi terakhir dengan anaknya berlangsung hangat. Sebelum berangkat dari Denpasar, korban sempat menelepon dalam kondisi gembira karena skripsinya telah selesai dijilid dan pendaftaran yudisium disetujui.
“Dia telepon dalam keadaan sangat senang. Bilang skripsinya sudah selesai dan mau pulang hari itu,” ungkapnya, Jumat (27/2).
Saat berbincang, sang ayah juga mengingatkan agar korban tidak memaksakan perjalanan bila hujan turun. Korban menyanggupi dan berjanji akan beristirahat bila cuaca buruk.
Dalam percakapan tersebut, keduanya bahkan sempat membahas rencana setelah yudisium. Korban disebut ingin memanfaatkan waktu sebelum wisuda untuk mengembangkan usaha breeding ayam. “Dia sudah punya rencana bangun kandang. Saya bilang fokus saja dulu usaha sendiri,” tutur Merdana.
Kecurigaan keluarga mulai muncul ketika hingga sore hari korban tak kunjung tiba di rumah, padahal hujan turun cukup deras di wilayah Buleleng. Telepon awal masih tersambung namun tidak diangkat, lalu tak lama kemudian hanya berstatus centang satu.
Atas saran rekannya yang anggota polisi, Merdana melapor melalui layanan darurat 110 dan mendatangi kantor polisi. Tidak lama kemudian ia menerima kabar bahwa sepeda motor anaknya ditemukan di Shortcut 7.
“Saya cek langsung, benar itu motornya,” ujarnya.
Ia juga menepis kabar di media sosial yang menyebut putranya terlilit pinjaman online. Menurutnya, kebutuhan kuliah korban selalu terpenuhi dan bahkan motor yang digunakan baru dibelikan sesuai keinginan korban.
Merdana mengenang putranya sebagai sosok aktif dan gemar fotografi. Semasa kuliah, korban pernah menjadi jurnalis sekaligus fotografer majalah kampus. Kamera miliknya ditemukan dalam kondisi rusak di bawah jurang.
“Dia memang suka fotografi dan selalu penasaran kalau melihat sesuatu yang unik. Bisa saja dia sedang memotret lalu terpeleset,” katanya.
Korban diketahui menuntaskan studinya dalam tujuh semester dengan predikat cumlaude. Ia sebenarnya bisa mengikuti yudisium lebih cepat, namun memilih menunggu agar dapat lulus bersama teman seangkatannya.
Keluarga pun berharap masyarakat menghentikan spekulasi mengenai peristiwa tersebut. “Kami sangat keberatan dengan informasi yang simpang siur. Ini musibah bagi keluarga kami. Kami yakin tidak ada alasan bagi dia untuk mengakhiri hidupnya,” tutup Merdana. *ndr















