BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BI: Penjualan Ritel Bali Menguat, Konsumsi Masyarakat Tetap Terjaga

(foto/ist)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

DENPASAR (terasbalinews.com). Aktivitas perdagangan eceran di Bali masih menunjukkan kinerja positif seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas pariwisata yang memasuki periode puncak kunjungan. Kondisi tersebut tercermin dari kinerja penjualan eceran yang tetap berada pada level optimis hingga Agustus 2026.

Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Juli 2026 berada di level 128,6 atau meningkat 1,7 persen secara bulanan (mtm). Capaian tersebut sekaligus mempertahankan indeks penjualan eceran di atas level 100 yang menunjukkan kondisi optimistis.

Penguatan penjualan terutama terjadi pada sejumlah kelompok komoditas. Penjualan kategori sandang meningkat 7,9 persen (mtm), disusul makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,9 persen serta barang budaya dan rekreasi yang tumbuh 3,5 persen.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, penguatan tersebut mencerminkan masih kuatnya permintaan masyarakat, terutama pada periode libur sekolah dan meningkatnya aktivitas pariwisata Bali.

“Aktivitas pariwisata Bali yang memasuki periode puncak kunjungan pada Juli-September 2026 turut mendorong permintaan barang dan jasa serta menjaga momentum konsumsi rumah tangga sebagai motor utama perekonomian daerah,” kata Achris, Rabu (23/9/2026).

Kinerja penjualan eceran tersebut juga sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Bali yang masih tumbuh positif. Pada triwulan II 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,78 persen secara tahunan (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas sektor pariwisata.

Dari sisi harga, inflasi Bali pada Juli 2026 tercatat 2,42 persen (yoy), menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan masih berada dalam sasaran inflasi nasional. Kondisi tersebut turut memberikan ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap terjaga.

Memasuki Agustus 2026, kinerja penjualan eceran Bali diprakirakan tetap kuat. BI memperkirakan IPR Agustus berada pada level 129,2 atau meningkat 0,5 persen (mtm).

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang peningkatan penjualan bahan bakar kendaraan bermotor, barang budaya dan rekreasi, serta suku cadang dan aksesori.

Momentum peak season pariwisata menjadi salah satu faktor penting yang menjaga aktivitas perdagangan. Selain itu, mobilitas masyarakat yang meningkat selama rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia serta tingginya kegiatan sosial dan adat di Bali turut mendorong permintaan berbagai komoditas ritel.

Di sisi lain, pelaku usaha memperkirakan tekanan harga dalam beberapa bulan mendatang cenderung meningkat. Hal itu tercermin dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Oktober 2026 sebesar 198 dan Januari 2027 sebesar 200.

Meski demikian, inflasi Bali pada Agustus 2026 yang mencapai 3,45 persen (yoy) masih berada dalam sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Kondisi tersebut dinilai masih memberikan ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tumbuh, meskipun pelaku usaha mulai menunjukkan moderasi dalam ekspektasi penjualan.

“Optimisme pelaku usaha ritel Bali masih berada di zona positif, meski lebih rendah dibandingkan survei sebelumnya,” ugkapnya.

Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk tiga bulan mendatang atau Oktober 2026 tercatat 180, turun dari 184 pada survei sebelumnya. Sementara IEP enam bulan mendatang atau Januari 2027 berada di level 188, turun dari 198.

Penurunan tersebut menunjukkan adanya moderasi ekspektasi pelaku usaha, namun indeks yang tetap berada di atas 100 menandakan pelaku usaha masih melihat prospek penjualan secara positif.

Aktivitas pariwisata dan konsumsi rumah tangga masih menjadi faktor utama yang menopang optimisme tersebut. Dukungan juga datang dari sektor pembiayaan. Kredit pada Lapangan Usaha Perdagangan hingga Juli 2026 tercatat tumbuh 1,86 persen (yoy).

Menurut Achris, sinergi antara pemerintah daerah, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TP2ED), pelaku usaha dan pemangku kepentingan lainnya akan terus diperkuat.

Fokusnya adalah menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat daya beli masyarakat agar pertumbuhan ekonomi Bali dapat berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan.

“Implementasi strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif, akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang momentum pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Achris. (red)

(foto/grafis/bi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *