BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

BIRF 2026 Kembali Digelar, Bukti Bali Utara Makin Kokoh di Panggung Budaya Dunia

whatsapp image 2026 02 15 at 15.23.51
Penampilan tarian kolosal memukau penonton dengan gerakan serempak dan balutan kostum bernuansa biru, menambah semarak rangkaian acara budaya yang berlangsung meriah. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Buleleng kembali menegaskan posisinya sebagai pusat perhelatan budaya internasional. Untuk ketiga kalinya secara berturut-turut, daerah di Bali Utara ini dipercaya menjadi tuan rumah Buleleng International Rhythm Festival (BIRF) 2026.

Direktur International Organization of Folk Art wilayah Bali, I Gusti Ngurah Eka Prasetya atau Gus Eka, menyebut kepercayaan dari UNESCO bersama jaringan IOV Indonesia menjadi penanda meningkatnya pengakuan dunia terhadap kekuatan budaya Bali Utara.

“Ini bukan sekadar festival. Ini adalah bentuk kepercayaan dunia internasional kepada Buleleng dan Bali Utara yang konsisten menjaga, merawat, sekaligus mempromosikan seni tradisi melalui diplomasi budaya,” ujar Gus Eka saat konferensi pers di Puri Kanginan, Sabtu (14/2).

Festival dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Maret 2026, dengan rangkaian kegiatan utama pada 11–14 Maret. Tahun ini, BIRF akan menghadirkan seniman, budayawan, dan akademisi dari enam negara yang akan memperkenalkan seni ritme tradisional sekaligus melakukan pertukaran pengetahuan lintas budaya.

Gus Eka menjelaskan, penyelenggaraan festival merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, termasuk Yayasan Sanggar Seni Santi Budaya sebagai penggerak utama, serta dukungan Pemerintah Kabupaten Buleleng dan unsur puri setempat.

Dukungan akademik datang dari Universitas Pendidikan Ganesha yang turut memperkuat aspek pendidikan dan riset. Menurut Gus Eka, keterlibatan kampus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat aktif dalam promosi budaya.

“Mahasiswa tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dan penggerak dalam promosi budaya,” katanya.

Festival ini juga memberikan dampak pariwisata yang luas. Sejumlah delegasi internasional telah tiba lebih awal dan mengunjungi berbagai destinasi di Bali, memicu pergerakan wisatawan serta aktivitas ekonomi.

Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kekuatan utama BIRF. Desa Wisata Panji dan Kalibukbuk dilibatkan melalui pengenalan budaya lokal dan wisata bahari, sementara UMKM turut meramaikan kegiatan dengan produk khas daerah.

Selain pertunjukan, BIRF juga menghadirkan workshop di sekolah dan kampus di Buleleng. Kegiatan ini menjadi ruang pertukaran budaya langsung antara delegasi internasional dan pelajar.

“Kita ingin generasi muda semakin bangga dengan budayanya sendiri. Ketika budaya itu diapresiasi bangsa lain, kepercayaan diri masyarakat akan tumbuh,” tegas Gus Eka.

Ia berharap kolaborasi lintas lembaga dalam BIRF dapat memperkuat identitas Bali Utara sebagai pusat budaya dunia sekaligus menghadirkan dampak ekonomi, sosial, dan edukasi yang berkelanjutan. *ndr

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *