GIANYAR (terasbalinews.com). Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), menegaskan bahwa museum bukan sekadar ruang statis yang menyimpan benda kuno, melainkan detak jantung peradaban yang hidup. Hal itu disampaikan saat audiensi peringatan Hari Museum Internasional di Museum Rudana, Ubud, Sabtu (17/5/2025).
“Museum adalah tempat kita merekam jejak sejarah, merawat nilai, dan menciptakan ruang belajar lintas generasi,” ujar Ibas di hadapan para pelaku budaya dan generasi muda yang hadir dalam forum bertajuk “Meniti Warisan, Merajut Masa Depan: Museum sebagai Penjaga Peradaban.”
Acara ini menjadi momentum pertemuan lintas generasi, tempat berbagai gagasan strategis tentang masa depan museum bermunculan. Mulai dari penguatan digitalisasi, kerja sama dengan dunia pendidikan, hingga pentingnya museum sebagai aktor dalam diplomasi budaya dan pembangunan karakter bangsa.
Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Putu Supadma Rudana, menyambut kehadiran Ibas sebagai sinyal kuat sinergi antara pelaku museum dan negara.
“Ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Ini adalah ruang dialog untuk masa depan museum Indonesia,” katanya.
AMI yang kini membawahi lebih dari 500 museum di seluruh Indonesia terus mendorong museum agar tidak tertinggal di tengah arus digitalisasi dan globalisasi. Museum, menurut Putu, perlu menjadi tempat belajar yang aktif, adaptif, dan kontekstual—bukan hanya penyimpan benda masa lalu.
“Memajukan museum berarti memuliakan ketulusan—dalam menjaga warisan, menyampaikan nilai, dan menjangkau masa depan,” tegas Putu. AMI juga mendorong museum sebagai wahana penerapan Empat Pilar Kebangsaan melalui narasi sejarah dan program edukatif yang inklusif.
Audiensi ini juga menyoroti pentingnya kebijakan berbasis museum—termasuk dukungan terhadap tenaga profesional museum dan pengembangan koleksi yang relevan dengan isu masa kini. Semua itu menjadi catatan penting agar museum tetap relevan dan mampu membentuk kesadaran kebangsaan.
Museum Rudana: Dari Galeri Seni ke Diplomasi Budaya
Sejak diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1995, Museum Rudana telah menjelma menjadi salah satu episentrum kegiatan budaya, baik lokal maupun internasional. Museum ini pernah menjadi tuan rumah APEC 2013, World Cultural Forum, hingga forum parlemen Asia Pasifik.
Pada Desember 2024, Museum Rudana menjadi tuan rumah Pagelaran Citra Seni dan Pesona Wastra Bali bersama Himpunan Ratna Busana Indonesia, yang turut dihadiri Titiek Soeharto. Lalu pada Februari 2025, museum ini menjadi ruang dialog budaya Wicara Cipta bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan para tokoh seni.
Museum ini juga menjalin hubungan erat dengan negara lain. Salah satunya melalui kunjungan Delegasi Parlemen Papua Nugini pada April 2024, yang berujung pada rencana pembuatan patung Grand Chief Sir Michael Somare di Gedung Parlemen Papua Nugini.
Tahun ini, bertepatan dengan 30 tahun berdirinya, Museum Rudana menggelar Festival Seni Sepanjang Tahun 2025 yang akan menampilkan pameran seni, pertunjukan budaya, dan diskusi publik bersama seniman nasional dan internasional. Ini menjadi penanda museum sebagai ruang pertemuan gagasan lintas bangsa dan lintas zaman. (red)















