BULELENG (terasbalinews.com) – Desa Adat Banyuasri mulai menjajaki pengembangan kawasan pesisir berbasis pelestarian lingkungan dan pariwisata berkelanjutan. Kawasan Pantai Banyuasri yang meliputi Pantai Pidada, Pantai Camplung, dan Pantai Indah dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari berbasis konservasi penyu.
Potensi tersebut muncul karena kawasan pesisir Banyuasri dikenal sebagai jalur hilir mudik penyu hijau. Kondisi ini membuka peluang pengembangan konservasi tukik sekaligus edukasi lingkungan yang dapat terintegrasi dengan sektor pariwisata.
Gagasan pengembangan itu disampaikan pegiat konservasi, Adhy Simatupang, dalam pertemuan bersama prajuru Desa Adat Banyuasri di Pantai Camplung, Sabtu (2/5/2026). Ia menilai pesisir Buleleng memiliki kekayaan ekosistem laut yang layak dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Menurutnya, Buleleng perlu mulai menghadirkan alternatif wisata bahari baru berbasis konservasi agar tidak hanya bergantung pada satu ikon wisata semata.
“Jika dikelola dengan baik, ini bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga menjaga warisan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Selain konservasi tukik, kawasan pesisir Banyuasri juga dinilai potensial dikembangkan menjadi ekowisata bahari terpadu. Tokoh adat Desa Banyuasri, Made Agus Parthama, menyebut sejumlah potensi wisata yang dapat dikembangkan, mulai dari wisata memancing, kano, berenang, dolphin seeing, hingga wisata religi di kawasan pura pesisir.
Tak hanya itu, pengembangan wisata kuliner serta jogging track dengan panorama pantai dan persawahan juga dianggap mampu menambah daya tarik kawasan tersebut.
Ia menilai hingga saat ini belum ada pengelolaan konservasi tukik berbasis masyarakat adat yang terstruktur di wilayah Banyuasri, padahal Pantai Camplung dinilai sangat potensial dijadikan pusat konservasi tukik di Buleleng.
Sementara itu, Kelian Desa Adat Banyuasri, Mangku Nyoman Widiasa, menyatakan dukungan terhadap gagasan tersebut. Menurutnya, program konservasi dan ekowisata dapat menjadi langkah strategis menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat adat.
“Saya menyambut baik program ini selama tidak mengganggu keseimbangan lingkungan dan mampu memberikan nilai tambah bagi desa adat,” katanya.
Ia menambahkan, rencana pengembangan kawasan pesisir tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam paruman desa adat untuk mendapatkan persetujuan krama.
Dengan posisi strategis di jalur wisata Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri diharapkan mampu berkembang menjadi destinasi wisata baru yang mengedepankan keseimbangan antara ekonomi, budaya, dan kelestarian lingkungan. *ndr














