BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Jelang Galungan Kuningan, PLN dan MDA Bali Serukan Keselamatan dan Keandalan Pasokan Listrik

(Ki-Ka) Manajer K3L dan Keamanan PLN UID Bali, I Made Ariana dan Petajuh Bendesa Agung Baga Agama, Adat, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal Majelis Desa Adat (MDA) Bali, IB Purwa Sidemen. (foto/red)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

DENPASAR (terasbalinews.com). Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan dan keandalan pasokan listrik. Imbauan tersebut disampaikan Manajer K3L dan Keamanan PLN UID Bali, I Made Ariana, dalam diskusi bertajuk “Akulturasi Budaya dan Teknologi dalam Peningkatan Pelayanan dan Keselamatan Ketenagalistrikan” yang digelar di Denpasar, Kamis (11/6/2026).

Menurut Ariana, kebutuhan listrik masyarakat biasanya meningkat selama rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan. Aktivitas warga tidak hanya terpusat di rumah tangga, tetapi juga di tempat-tempat ibadah dan ruang publik yang berdekatan dengan infrastruktur kelistrikan.

Karena itu, ia mengharapkan partisipasi masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan keselamatan maupun mengganggu keandalan pasokan listrik.

“Jika masyarakat menemukan potensi bahaya yang berkaitan dengan jaringan listrik, kami harapkan segera melaporkannya melalui aplikasi PLN Mobile atau Call Center 123 agar petugas dapat segera menindaklanjuti,” ujarnya.

Salah satu perhatian utama PLN menjelang hari raya adalah pemasangan penjor, yang merupakan bagian penting dari tradisi umat Hindu di Bali. Ariana menegaskan bahwa PLN tidak melarang masyarakat memasang penjor, namun mengingatkan agar pemasangannya memperhatikan faktor keselamatan, terutama jika berada di dekat jaringan listrik.

Ia menjelaskan, kondisi cuaca seperti hujan dan angin kencang dapat menyebabkan bagian penjor terhempas atau tersangkut pada jaringan listrik. Situasi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan listrik maupun risiko keselamatan bagi masyarakat.

PLN mengimbau agar penjor dipasang dengan memperhatikan jarak aman minimal 2,5 meter dari jaringan listrik. Ketentuan tersebut merupakan standar keselamatan yang berlaku tidak hanya untuk penjor, tetapi juga berbagai objek lain yang berada di sekitar instalasi kelistrikan.

Apabila masyarakat menemukan kondisi penjor atau objek lain yang terlalu dekat dengan jaringan listrik, PLN meminta agar segera dilakukan koordinasi sehingga petugas dapat melakukan penanganan yang diperlukan. Untuk jangka panjang, PLN juga membuka kemungkinan penyesuaian konstruksi jaringan melalui perencanaan teknis yang matang apabila memang dibutuhkan.

Selain penjor, PLN juga terus melakukan pengawasan terhadap berbagai potensi gangguan lain, seperti pohon yang tumbuh terlalu dekat dengan jaringan listrik. Ariana menjelaskan bahwa PLN memiliki unit khusus yang memantau sistem distribusi sehingga gangguan dapat terdeteksi lebih cepat.

“Jika ada pohon yang berpotensi mengganggu jaringan, biasanya dilakukan pemangkasan atau perabasan agar jarak aman tetap terjaga,” jelasnya.

Ia bersyukur hingga saat ini tidak terdapat kasus korban jiwa di Bali yang disebabkan oleh kondisi tersebut.

Sementara itu, Petajuh Bendesa Agung Baga Agama, Adat, Seni Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal Majelis Desa Adat (MDA) Bali, IB Purwa Sidemen, menyambut baik upaya edukasi yang dilakukan PLN. Menurutnya, sosialisasi mengenai keselamatan sangat penting karena akan diteruskan kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk media massa.

Purwa menegaskan bahwa imbauan keselamatan bukanlah larangan untuk memasang penjor. Sebaliknya, hal tersebut merupakan pengingat agar tradisi yang telah diwariskan turun-temurun tetap dapat dilaksanakan dengan aman.

“Penjor merupakan bagian penting dalam pelaksanaan ritual umat Hindu di Bali. Namun masyarakat juga perlu memahami potensi bahaya yang mungkin muncul apabila pemasangannya tidak memperhatikan aspek keselamatan,” ujarnya.

Ia meyakini koordinasi antara masyarakat dan PLN akan menghasilkan solusi terbaik apabila ditemukan penjor yang berdekatan dengan jaringan listrik. Kreativitas masyarakat Bali, lanjutnya, dapat menjadi modal untuk tetap melestarikan tradisi tanpa mengabaikan faktor keselamatan.

Menurut Purwa, keselamatan publik harus menjadi prioritas bersama. Tidak hanya terkait penjor, tetapi juga berbagai bangunan atau aktivitas lain yang berpotensi menimbulkan risiko jika berada terlalu dekat dengan jaringan listrik.

“Sepanjang ada komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait, saya yakin selalu ada jalan keluar yang bisa ditempuh sehingga tradisi tetap berjalan dan keselamatan masyarakat tetap terjaga,” katanya.

Melalui sinergi antara PLN, lembaga adat, dan masyarakat, diharapkan seluruh rangkaian Hari Raya Galungan dan Kuningan dapat berlangsung dengan aman, lancar, serta didukung pasokan listrik yang andal bagi seluruh warga Bali. (yak)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *