BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Kapal Tanker Cinta Natomas Kembali Miring, Evakuasi Limbah Gagal, Ancaman Lingkungan Mengintai Laut Celukan Bawang

Tim pekerja terlihat melakukan pemantauan dari perahu karet di sekitar kapal tanker FSO Cinta Natomas yang masih bersandar di dermaga Pelabuhan Celukan Bawang. Kapal milik SKK Migas tersebut diduga mengalami kemiringan akibat kebocoran dan berisi limbah B3 yang berpotensi mencemari laut. (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Kondisi kapal tanker FSO (Floating Storage Offloading) Cinta Natomas milik SKK Migas yang telah lama bersandar di Pelabuhan Celukan Bawang, kembali menuai kekhawatiran. Kapal yang disewa oleh Pertamina sejak tahun 2018 itu kini terlihat miring, diduga akibat kebocoran pada bagian lambung dan pergeseran muatan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di dalam tangki.

Kapal ini telah bersandar selama tujuh tahun di dermaga curah cair tanpa aktivitas signifikan. Meski dalam status sewa tambat yang menguntungkan secara bisnis bagi Pelindo selaku pemilik dermaga, namun kondisi kapal yang nyaris tak terurus justru menjadi bom waktu bagi potensi pencemaran laut.

Di lokasi, tampak pekerja memasang oil boom, penghalang minyak terapung untuk mencegah tumpahan menyebar di permukaan laut. Namun rencana untuk mengevakuasi limbah B3 yang berada di dalam kapal gagal dilakukan. Salah satu pekerja menyampaikan, “Saat ini sedang dilakukan prekerjaan pemindahan minyak mentah yang sudah mengendap karena kondisi kapal terakhir terlihat miring, proses pemindahan sludge (endapan semi padat) dari tangki kiri ke sebelah kanan untuk menstabilkan kapal.”

Kepala Kantor KSOP Kelas IV Celukan Bawang, Taufikur Rahman, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengatakan bahwa upaya pemindahan muatan limbah B3 belum bisa dilakukan karena kapal belum stabil.

“Saat ini sedang dilakukan pekerjaan menstabilkan kapal kembali agar berada dalam posisi seimbang. Setelah itu baru muatan kapal akan evakuasi,” ujarnya pada Kamis (31/7/2025).

Taufikur juga menekankan bahwa keselamatan dan aspek teknis harus menjadi prioritas dalam proses pembongkaran muatan berbahaya tersebut.

“Kapal harus memenuhi aspek teknis tertentu dengan tidak mengabaikan keselamatan orang-orang yang bekerja di atas kapal, baik ABK itu sendiri maupun para pekerja selama proses tank cleaning berlangsung,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa KSOP telah berulang kali memperingatkan pemilik kapal mengenai potensi pencemaran dari limbah B3.

“Tupoksi kami di KSOP selain sebagai pengawasan dan keselamatan pelayaran juga sebagai pengawasan perlindungan lingkungan maritim di wilayah kerjanya,” imbuhnya.

Di sisi lain, Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Buleleng, I Gede Putra Aryana, menyatakan pihaknya terus melakukan pemantauan.

“Kami di DLH Buleleng tetap monitor, setiap tahapan pekerjaannya akan dilaporkan ke pihak terkait termasuk Dinas Lingkungan Hidup Provinsi maupun ke Pusdal LH Bali Nusra,” tandasnya.

Sebagai informasi, kapal Cinta Natomas dengan nama lambung Tuban Marine Terminal, merupakan kapal tanker buatan tahun 1972 yang memuat sekitar 105 barel minyak mentah dan kini berisi 10 awak kapal termasuk nakhodanya. Saat ini kapal dalam proses usulan penghapusan aset oleh Kementerian Keuangan RI. (ndra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *