BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Penjor Festival 2026, GWK Perkuat Pelestarian Budaya Bali Libatkan Komunitas dan UMKM

Penjor Festival 2026 di GWK Bali. (foto/ist)
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BADUNG (terasbalinews.com). Garuda Wisnu Kencana (GWK) Cultural Park terus memperkuat perannya sebagai destinasi wisata budaya di Bali. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Penjor Festival 2026, Kamis (5/11/2026) yang tidak hanya menjadi ajang apresiasi tradisi Bali, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bagi masyarakat, komunitas seni, generasi muda, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Penjor Festival 2026 menghadirkan beragam kegiatan yang memungkinkan pengunjung mengenal lebih dekat tradisi penjor, mulai dari pameran penjor, workshop, Lomba Penjor Mini, bazar UMKM, hingga pertunjukan seni dan musik. Festival ini juga dirancang sebagai ruang interaksi antara GWK dengan masyarakat, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Bali kepada wisatawan.

Perwakilan GWK, Rannie, mengatakan Penjor Festival merupakan salah satu bentuk komitmen GWK dalam menghadirkan ruang apresiasi terhadap tradisi dan budaya Bali. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam berbagai aktivitas festival.

Menurutnya, penjor memiliki makna filosofis yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Bali. Hiasan bambu tinggi yang dilengkapi janur dan hasil bumi tersebut merupakan simbol rasa syukur, kemenangan dharma atas adharma, serta memiliki keterkaitan dengan Gunung Agung dan Naga Basuki.

Karena itu, penyelenggaraan Penjor Festival menjadi bagian dari upaya menjaga tradisi agar tetap dikenal dan berkembang di tengah perubahan zaman. GWK berharap festival ini dapat menginspirasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan kreativitas dalam membuat penjor tanpa meninggalkan filosofi dan nilai-nilai tradisionalnya.

Penjor Festival sendiri merupakan salah satu dari empat agenda tahunan GWK yang terdiri atas dua kegiatan budaya dan dua konser musik. Festival budaya ini secara rutin diselenggarakan pada periode Oktober-November.

Selain mengangkat tradisi, festival tahun ini juga memberikan perhatian terhadap pemberdayaan ekonomi kreatif lokal. Sejumlah tenant UMKM terkurasi dilibatkan untuk menghadirkan produk kuliner kepada pengunjung.

Kolaborasi juga diperluas dengan berbagai komunitas yang menghadirkan aktivitas interaktif, seperti body combat bersama Celebrity Fitness dan kegiatan yoga bersama MicroMinfullnes.

Sejumlah komunitas, seniman, dan pelaku kreatif turut meramaikan festival, di antaranya LPM Ungasan, Puri Lontar, Bali Aga, Duen Penjor, Joyful Music Bali, Debeat Music Course, Komunitas Seni Dana Swara, dan Cressendo.

Pengunjung juga disuguhkan penampilan Tika Pagraky, Nanoe Biroe, Ary Kencana bersama Neli Ambarawati, serta Leeyonk Sinatra. Berbagai pertunjukan seni, musik komunitas, dan fashion show bersama Gemar Creative turut melengkapi rangkaian acara.

Sementara itu, perwakilan GWK Cultural Park & Tourism, Rossie, menyampaikan bahwa pengembangan GWK sebagai destinasi wisata tidak hanya bertumpu pada daya tarik Patung Garuda Wisnu Kencana, tetapi juga melalui penguatan atraksi seni, budaya, dan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat.

“Saat ini, jumlah kunjungan wisatawan ke GWK tercatat berkisar 3.000 hingga 5.000 orang per hari. Untuk mempertahankan daya tarik tersebut, GWK terus mengembangkan program seni budaya, menyelenggarakan berbagai event, serta memperluas kolaborasi dengan komunitas dan pelaku industri kreatif lokal,” ungkapnya.

Kontribusi GWK terhadap pariwisata Bali juga diwujudkan melalui penyediaan ruang promosi bagi UMKM, seniman, dan komunitas untuk memperkenalkan produk maupun karya mereka kepada wisatawan.

“Selain Penjor Festival, GWK juga rutin menghadirkan Festival Ogoh-Ogoh sebagai bagian dari agenda pelestarian budaya. Adapun agenda besar berikutnya setelah Penjor Festival adalah GWK Bali Countdown,” jelasnya.

Komitmen terhadap pelestarian budaya bahkan diwujudkan melalui aktivitas harian. GWK menghadirkan sekitar 15 pertunjukan seni budaya setiap hari, mulai dari tari tradisional, gamelan, hingga pertunjukan kolosal.

GWK juga menjalankan program Literasi Budaya yang memperkenalkan seni dan tradisi Bali kepada anak-anak sejak dini melalui pengalaman langsung. Program lainnya seperti GWK Menari, GWK Menabuh, dan Panggung Nusantara menjadi bagian dari upaya memperluas keterlibatan masyarakat dalam aktivitas seni budaya.

“Ke depan, GWK menargetkan penguatan posisi sebagai destinasi wisata budaya yang memiliki daya tarik sepanjang tahun. Pengembangan tidak hanya berorientasi pada kunjungan ke ikon Patung GWK, tetapi juga pada pengalaman wisata yang lebih beragam melalui pertunjukan seni, edukasi budaya, dan penyelenggaraan festival,” pungkas Rossie.

Kolaborasi dengan komunitas, seniman, UMKM, serta berbagai pelaku industri pariwisata juga akan terus diperluas. Dengan demikian, GWK diharapkan tidak hanya menjadi ikon pariwisata Bali, tetapi juga berperan aktif menjaga keberlangsungan tradisi sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat lokal. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *