BULELENG (terasbalinews.com) – Pemerintah Kabupaten Buleleng terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan, serta pemantauan pertumbuhan balita secara berkala. Berdasarkan data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Keluarga (Sigizikesga) per Oktober 2026, prevalensi stunting di Buleleng tercatat sebesar 3,47 persen atau 1.014 balita dari total 29.183 balita.
Angka tersebut berada di bawah target nasional sebesar 14,2 persen. Meski demikian, upaya menekan stunting tetap menjadi perhatian karena setiap anak membutuhkan asupan gizi memadai, pelayanan kesehatan yang optimal, dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, dr. Sucipto, S.Ked., M.A.P., menegaskan bahwa penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan pemenuhan makanan. Pertumbuhan anak juga perlu dipantau secara rutin untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
Saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (27/10/2026), Sucipto menyebut Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) memiliki peran penting dalam upaya tersebut. Melalui layanan ini, berat badan dan tinggi badan balita dapat dipantau setiap bulan. Jika ditemukan indikasi gangguan pertumbuhan, anak bisa segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Pemenuhan protein hewani sangat penting untuk mendukung pertumbuhan anak. Karena itu, kami mengajak para orang tua untuk rutin membawa balitanya ke Posyandu agar berat badan dan tinggi badannya terpantau setiap bulan,” ujar Sucipto.
Ia mengingatkan orang tua agar memperhatikan kebutuhan gizi anak, terutama asupan protein hewani dari telur, ikan, daging, ayam, dan susu. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi, ASI hingga anak berusia dua tahun, serta vitamin A sesuai jadwal juga perlu diperhatikan untuk mendukung pertumbuhan balita.
Selain pemenuhan gizi, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui kemungkinan penyakit penyerta yang dapat menghambat pertumbuhan. Beberapa kondisi yang perlu diwaspadai di antaranya tuberkulosis (TBC), cacingan, infeksi kronis, gangguan penyerapan nutrisi, dan anemia.
Apabila ditemukan masalah kesehatan, anak akan mendapatkan penanganan sesuai kondisi, termasuk rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan jika diperlukan. Langkah ini penting agar gangguan pertumbuhan tidak hanya ditangani dari sisi asupan makanan, tetapi juga dari penyebab medis yang mendasarinya.
Dinkes Buleleng turut menekankan pentingnya kebersihan lingkungan dalam menjaga kesehatan anak. Masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menggunakan air bersih, menyediakan jamban yang layak, serta memastikan anak memperoleh imunisasi dasar dan lanjutan sesuai jadwal.
“Jangan menunggu anak terlihat kurus untuk memeriksakan pertumbuhannya. Pemantauan rutin di Posyandu membantu mendeteksi masalah sejak dini sehingga anak bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat,” ajak Sucipto.
Melalui upaya pencegahan dan penanganan yang berkelanjutan, Dinas Kesehatan Buleleng berharap pertumbuhan balita dapat terjaga secara optimal. Keterlibatan orang tua, dukungan tenaga kesehatan, dan kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dalam mewujudkan generasi Buleleng yang sehat dan berkualitas. *ndr














