BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
banner

Kendati Memantik Pro Kontra, Ketua Pansus RPPLH DPRD Bali, Ray Yusha, Puji Kebijakan Sampah Koster

ray
Ketua Pansus Raperda Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahun 2025–2055 DPRD Provinsi Bali, Nyoman Ray Yusha. (foto/khan).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com). Ketua Panitia Khusus (Pansus) Ranperda Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Tahun 2025–2055, DPRD Provinsi Bali, Nyoman Ray Yusha memuji langkah Gubernur Bali Wayan Koster terkait larangan produksi, distribusi, dan penjualan air minum dalam kemasan plastik sekali pakai dengan volume di bawah 1 liter yang dianggap menjadi penyumbang terbesar sampah plastik di Bali. Hal itu disampaikan Ray Yusha saat melakukan kunjungan kerja ke DPRD Buleleng, Jumat (11/4/2025).

Sebelumnya, Gubernur Wayan Koster, mengeluarkan Surat Edaran (SE) Nomor 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bersih Sampah. Keluarnya surat edaran tersebut sebagai upaya Pemprov Bali mengatasi permasalahan sampah yang terus menjadi isu sentral di Bali. Langkah ini juga dilakukan untuk menyikapi belum optimalnya pengurangan sampah plastik sekali pakai.

“SE Gubernur terkait pengendalian sampah sangat baik untuk pembangunan berkelanjutan sehingga Bali mengurangi faktor yang menjadi penyebab pencemaran. Kendati ada pro kontra, kalau tidak dimulai kapan lagi?,” kata Ray Yusha.

Menurut dia, setelah Koster menerbitkan SE No 9, harus dijalankan secara konsisten dan bertanggung jawab dan menjalankannya tanpa pandang bulu, terlebih menyerah ditengah jalan. Apalagi kebikajan tersebut memantik polemik tajam di masyarakat.

“Adanya pro kontra karena ada yang merasa dirugikan dan diuntungkan. Yang protes tentu yang dirugikan dan itu wajar. Yang kontra bagian dari sikap kritis yang harus didengar oleh Gubernur,” imbuhnya.

Ray Yusha menambahkan, adanya kebiasaan dimasyarakat terutama di desa adat yang menggunakan air kemasan setiap kali ada kegiatan dan itu dianggap memberatkan. Politisi Gerindra ini meminta agar masyarakat melakukan flash back saat Bali belum ada plastik yang kemudian menjadi ancaman buat lingkungan.

“Sebelum ada plastik semua serba enak karena serba alami tanpa merusak alam, asri. Membungkus makanan nasi dengan daun, sangat nyaman. Berbeda dengan palstik, dari pikiran saja sudah terkontaminasi,” paparnya.

Ray Yusha juga meminta kepada pemerintah agar jangan memaksaakn kebijakan tersebut, biarkan berproses dan lambat laun masyarakat pasti akan menyadari bahaya  sampah plastik yang sangat merugikan masa depan lingkungan hidup tersebut.

“Kita menyadari dengan adanya produk berbahan plastik semua menjadi simpel dan mudah, tapi dibaliknya sangat merugikan. Untuk itu saya menghimbau sebaiknya kita kembali ke alam untuk kelestariannya,” ucapnya.

Selain itu, Ray Yusha meminta kepada masyarakat untuk melihat kebijakan  tersebut secara komprehensif dengan tidak melihat latar belakang Koster. Terlebih tujuan SE Koster tersebut memiliki dampak jangka panjang baik untuk alam Bali.

“Saya sangat simpati dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, menuju Bali era baru. Saya minta kepada Koster agar fokus mensejahterakan masyarakat Bali. Jangan lagi bicara soal periode ketiga tidak ada itu. Konsisten saja sebagai murdaning jagat Bali untuk mengayomi rakyat Bali dengan tidak melihat warnanya,”tandas Ray Yusha. Khan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *