BREAKING NEWS
PT. TERAS MEDIA SEJAHTERA (terasbalinews.com). AHU-0012026.AH.01.01.TAHUN 2023.
Pasang iklan disini ( 970x250 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

Pemuda Buleleng Produksi Rindik Bambu Berteknologi, Tembus Pasar Ekspor Dunia

I Gede Edi Budiana atau Edibud saat menunjukkan salah satu bilah bambu bahan rindik di studio “dE Percussion” miliknya di Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Minggu (13/7). (foto/ist).
banner 120x600
Pasang iklan disini ( 468x60 pixel )
WhatsApp +62 819-3301-0005

BULELENG (terasbalinews.com) – Di tengah geliat perkembangan teknologi dan ekonomi kreatif, seorang pemuda asal Desa Alasangker, Kecamatan Buleleng, Bali, membuktikan bahwa budaya lokal masih bisa bersaing di kancah global. I Gede Edi Budiana, yang akrab disapa Edibud, telah sukses mengembangkan usaha gamelan rindik berbahan bambu hingga merambah pasar ekspor.

Lahir tahun 1995, Edibud memadukan keterampilan tradisional dengan teknologi modern dalam proses pembuatan alat musik khas Bali ini. Ia menggunakan aplikasi digital untuk menguji ketepatan nada pada bilah bambu, agar hasilnya lebih presisi dan sesuai tangga nada selendro. “Dahulu tetua membuat rindik dengan rasa dan feeling untuk sounding, sekarang saya padukan dengan sentuhan teknologi melalui aplikasi untuk test sounding tiap bilah bambu… karena pendengaran kita kadang tidak sesensitif aplikasi,” jelasnya saat ditemui di studio miliknya, Minggu (13/07).

Kecintaan Edibud terhadap gamelan muncul sejak kecil, terutama ketika mendengar alunan gamelan melalui radio atau saat upacara adat. Minat itu makin berkembang saat ia menimba ilmu komputer di Gianyar, sekaligus belajar langsung dari para tetua pengrajin rindik di sana. Usaha pertamanya dimulai dengan memanfaatkan bambu bekas penjor untuk membuat rindik sederhana yang kemudian laku dijual seharga Rp300 ribu. “Itu penjualan rindik buatan saya pertama kali tahun 2016 lalu,” kenangnya.

Setelah lulus kuliah pada 2018, Edibud kembali ke kampung halamannya dan mendirikan studio “dE Percussion” di rumahnya yang berlokasi di selatan Kampus FOK Undiksha Jinengdalem. Di sinilah ia mulai mengembangkan berbagai produk gamelan bambu seperti tingklik, angklung, suling, kulkul, hingga kincir angin bernada.

Untuk menjaga kualitas, ia memilih bambu Tabah yang tumbuh di perbukitan Bali Utara dan bambu Hitam dari Jawa. Proses pengawetan dilakukan dengan merendam bambu selama dua bulan menggunakan campuran insektisida dan EM4 agar tahan lama dan bebas rayap. “Bersyukur sekali di Buleleng tumbuh bambu Tabah yang sangat bagus digunakan untuk bahan rindik… sehingga kualitas bambu sangat bagus,” ujarnya.

Tak hanya mengandalkan kualitas produk, Edibud juga aktif mempromosikan karyanya lewat media sosial seperti Instagram dan TikTok dengan akun “dE Percussion”. Strategi ini terbukti efektif, dengan pesanan datang dari berbagai daerah seperti Denpasar, Tabanan, hingga luar negeri seperti Jepang, Australia, New York, dan Singapura.

Harga rindik yang ia tawarkan bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp8 juta tergantung pada ukuran dan ukiran. Edibud juga menggandeng warga sekitar untuk membantu proses produksi, terutama untuk pembuatan pelawah dan ukiran. “Sekarang ini saja banyak pesanan selain kami akan menyetok juga, karena proses pembuatannya agak lama agar produk yang kami buat berkualitas,” ungkapnya.

Ia berharap semakin banyak generasi muda tertarik untuk melestarikan seni gamelan Bali. “Banyak potensi muda-mudi yang senang akan gamelan rindik ini, namun karena faktor ekonomi, cenderung untuk merantau keluar, sehingga seni gamelan rindik ini sementara ditinggalkan, bukan tidak ada peminat ya,” tutupnya penuh harap. Ndra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *